Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya! Akademisi Ini Raih Doktor Usia 26 Tahun

(Last Updated On: )

FOTO: Dr. Anak Agung Gede Agung Indra Prathama, SH., MH., didampingi kakeknya, Drs. IGB Arthanegara, SH., MH., M.Pd., dan keluarga, usai Ujuan Terbuka dan Promosi Doktor, Prodi Ilmu Hukum, PPs Unwar.

 

DENPASAR – fajarbali.com | Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah kebijaksanaan klasik itu relevan dalam kehidupan Dr. Anak Agung Gede Agung Indra Prathama, SH., MH.

Gung Indra, begitu ia kerap disapa, merupakan dosen muda pada Fakultas Hukum Universitas Ngurah Rai. Di usia 26 tahun, Gung Indra sukses menyematkan gelar Doktor bidang Imu Hukum di depan namanya, setelah sukses melumat S1 dan S2 secara linier di bidangnya.

Gelar akademik tertinggi itu, secara resmi disandangnnya setelah melewati Ujian Terbuka Program Studi Hukum, Program Doktor, Program Pascasarjana Universitas Warmadewa (Unwar), Sabtu (2/9/2023).

Gung Indra berhasil mempertahankan disertasi “Penguatan Desa Adat sebagai Subyek Hukum dalam Pengelolaan Usaha Pariwisata di Bali’ di hadapan dewan penguji. Ia juga memegang rekor sebagai doktor hukum termuda yang ditelurkan Unwar.

Mendapat predikat kelulusan Dengan Pujian, tentu tak mudah ketika berhadapan dengan dewan penguji internal dan eksternal, sekaliber; Dr. Drs. AA Rai Sita Laksmi, M.Si (Ketua Sidang), Prof. Dr. I Made Suwitra, SH., MH (Sekretaris), Penguji Eksternal I, Prof. Dr. I Nyoman Nurjaya, SH., MH., Penguji Eksternal II Prof. Dr. I Putu Gelgel, SH., M.Hum.

Kemudian, Penguji III, Prof. Dr. I Nyoman Putu Budiartha, SH., MH., Penguji IV, Prof. Dr. Johannes Ibrahim Kosasih, SH., M.Hum., Penguji Dr. I Wayan Rideng, SH., MH., dan sebagai notulen Sidang yakni Dr. I Gusti Bagus Suryawan, S.H.,M.Hum.

Terlepas dari capaian gemilang pria kelahiran Denpasar, 2 Desember 1996 ini, ia adalah cucu dari tokoh pendidikan Bali Drs. IGB Arthanegara, SH., MH., M.Pd. Bahkan jika melihat latar belakang kehidupannya, Arthanegara acap dicap dedengkot pendidikan, sastrawan, dan aktivis kepemudaan pada eranya.

Di usia uzhurnya, nyaris 80 tahun, Arthanegara masih aktif memimpin Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi IKIP PGRI Bali, yang menaungi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI).

Pemikiran kritisnya di bidang pendidikan, sastra, budaya dan olahraga masih setia menghiasi perwajahan berbagai media massa di Bali.

Gung Indra pun mengakui, sang kakek adalah inspiratornya, selain orangtuanya; Anak Agung Raka Arnawa, SH., MH., dengan I Gusti Ayu Sri Apsari, SH., MH., dan kolega, tentunya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada kakek saya, IGB Arthanegara. Karena berkat beliau saya bisa berdiri di sini,” ujarnya.

“Kemudian untuk keluarga saya, ajik, ibu, istri anak yang memberikan dukungan, moral, dan modal juga mendukung. Begitu juga promotor yang membina dan membimbing, sehingga saya menjadi seorang doktor,” ujarnya dengan mata sembab.

Ada secercah harapan, kelak sang cucu meneruskan estafet pengabdiannya di bidang pendidikan, begitu pun sang cucu juga punya similaritas dengan kakek.

Selain mengajar di Universitas Ngurah Rai, Gung Indra juga mengisi posisi penting di bagian hukum, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Dia juga tergabung dalam Peradi. “Kelak saya harap cucu saya ini membela masyarakat, khususnya guru yang tersandung hukum,” pungkas Arthanegara. (Gde)

Next Post

Demokrat Bali Usulkan DPP Alihkan Dukungan ke Ganjar Pranowo

Ming Sep 3 , 2023
"Kami memang ada aspirasi juga, dari para kader dan simpatisan, kecenderungan kan dukungannya ke Pak Ganjar. Melihat survei, keinginan masyarakat Bali kan itu, kita harus rasional juga, apa peta utama keinginan rakyat Bali. Itu yang kita sampaikan sesuai dengan kondisi daerah" tandasnya.
IMG-20230903-WA0000

Berita Lainnya