"Terdapat kesenjangan antara norma hukum dan praktik perlindungan ODGJ di sektor pariwisata. Perlindungan hukum tidak cukup hanya melalui regulasi. Pendidikan dan teknologi merupakan instrumen strategis untuk meningkatkan efektivitas implementasi hukum. Integrasi hukum, pendidikan, dan teknologi mendukung pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan," kata Yuli Utomo.
Dalam rekomendasinya, Yuli Utomo mendorong adanya integrasi isu kesehatan mental dalam kurikulum pendidikan pariwisata. Selain itu, ia mengusulkan pengembangan platform e-learning nasional, penerapan sistem monitoring kepatuhan berbasis digital, penyusunan SOP perlindungan ODGJ di destinasi wisata, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat.
Presentasi yang disampaikan Yuli Utomo kemudian dinilai oleh Prof. Dr. Ida Fatmawati Bt Adi Badiozaman, selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian Universitas Teknologi Swinburne Sarawak, Malaysia, dan Dr. Reginald Gerald Govender, pengajar Universitas KwaZulu-Natal, Afrika Selatan.
Sementara penghargaan diserahkan oleh Dr. Brian D. Beitzel, Wakil Dekan dan Profesor Sekolah Pendidikan, Ekologi Manusia, dan Studi Olahraga SUNY Oneonta, Amerika Serikat, bersama Mr. Isanka P. Gamage, Pendiri Bersama dan Direktur Pelaksana Institut Internasional Manajemen Pengetahuan (TIIKM), Sri Lanka.
"Tentunya dengan penghargaan ini saya sangat bangga dan bahagia. Karena sebagai mahasiswa dan ahli hukum bisa berprestasi di dunia pendidikan, serta turut mengharumkan nama Kampus Warmadewa," ujarnya.










