Wujudkan Anak Sekolah Bebas dari Infeksi Kecacingan, Penyuluhan Kesehatan Sasar SDN 1 Ubud

IMG-20260614-WA0001
Pengabmas PKM bertajuk "Penyuluhan Kesehatan Tentang Kecacingan dan Pemeriksaan Kadar Hemoglobin pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Ubud-Gianyar", oleh Tim Poltekkes Kemenkes Denpasar.

GIANYAR-fajarbali.com | Anak usia sekolah dasar (SD) merupakan golongan masyarakat yang sangat diharapkan dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia yang potensial di masa yang akan datang sehingga perlu diperhatikan dan disiapkan untuk dapat tumbuh sempurna baik fisik maupun intelektualnya. 

Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan infeksi kecacingan dengan usia sekolah merupakan golongan yang sering terkena infeksi kecacingan karena sering berhubungan dengan tanah.

Agar menjadi sumber daya manusia unggul, anak-anak usia dini harus terbebas dari segala ancaman penyakit. Oleh karena itu, Tim Pengabdi/Dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Denpasar, menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM), Jumat (7/6/2206) di SDN 1 Ubud, Kelurahan/Kecamatan Ubud, Gianyar. 

Pengabmas PKM bertajuk "Penyuluhan Kesehatan Tentang Kecacingan dan Pemeriksaan Kadar Hemoglobin pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Ubud-Gianyar", Diketuai Ida Bagus Oka Suyasa, S.Si., M.Si, bersama anggota Heri Setiyo Bekti, S.ST., M.Biomed, Dr. drg I Gusti Agung Ayu Dharmawati, M. Biomed., serta dibantu enam mahasiswa.

Ida Bagus Oka Suyasa menjelaskan, pada anak-anak yang terkena infeksi kecacingan bisa memberikan dampak yaitu malnutrisi, retardasi intelektual, defisit kognitif, dan edukasional. Infeksi Soil Transmitted Helminthes (STH) dapat berdampak pada kemampuan sekolah, kehadiran dan produktivitas ekonomi masa depan pada anak. 

"Menurut WHO, Gejala dan manifestasi klinis pada anak-anak yang terkena infeksi kecacingan berupa malaise yang bisa mempengaruhi kemampuan belajar, serta dapat menyebabkan malnutrisi yang bisa mengganggu pertumbuhan," jelas Ida Bagus Oka Suyasa. 

Ia melanjutkan, prevalensi STH di Bali pada tahun 2004 mencapai 58,3%-96,8% pada anak SD, dimana data diambil pada 13 SD yang berada di kawasan Badung, Denpasar dan Gianyar.

BACA JUGA:  Antisipasi Peserta Vaksin Luar Klungkung Membludak, Bupati Suwirta Minta Vaksinator Ditambah

Pemeriksaan yang umumnya dilakukan dalam mendiagnosis infeksi nematoda usus adalah dengan mendeteksi keberadaan telur cacing atau larva pada feses. Berdasarkan pemaparan diatas, maka pemeriksaan sangat penting untuk dilakukan guna mencegah secara dini, sehingga dipandang perlu untuk dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang mengarah pada usaha promotif terhadap penyakit kecacingan.   

"Sasaran kami anak-anaknya SDN 1 Ubud Kelas IV dengan jumlah 86 orang," ungkapnya. Kegiatan diawali pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa tentang penyakit kecacingan sebelum diberikan penyuluhan. 

Pada kegiatan ini peserta mengisi lembar pertanyaan yang sudah disusun oleh tim pengabdi. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan dengan metoda ceramah, game dan simulasi dan tanya jawab. 

Peserta juga di bekali dengan modul “ Mencegah Infeksi Kecacingan pada Anak Anak”. Pada kegiatan ini anak anak tampak antusias mendengarkan ceramah dan mengikuti simulasi cara mencuci tangan yang benar sambil bernyanyi. Siswa juga tampat aktif dalam tanya jawab.  

Setelah mendapatkan edukasi, siswa kembali diberikan post test untuk dapat dilihat tingkat pengetahuan peserta penyuluhan setelah mendapat penyuluhan. Pada kesempatan itu juga diadakan penguatan kader kesehatan yang sudah dibentuk di SDN 1 Ubud dengan nama “Dokter Kecil”. 

Kader kesehatan yang juga mengikuti penyuluhan mendapat penekanan dari sisi metoda menyampaikan materi kepada teman sebaya. Mereka juga di bekali dengan media penyuluhan untuk memudahkan saat melakukan penyuluhan kepada teman sebayanya atau adik adik kelasnya.  

Pada kegiatan ini juga diadakan pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb) kepada seluruh peserta penyuluhan yang dilaksanakan bersamaan dengan saat penyuluhan dan pemeriksaan telur cacing pada feses peserta penyuluhan. 

Feses siswa sudah diambil oleh masing masing siswa pagi hari sebelum penyuluhan. Feses yang ditempatkan pada wadah berupa pot feses. Feses diperiksa di Laboratorium Parasitologi Poltekkes Denpasar.  

BACA JUGA:  Gandeng Level 21 Mall Bali, PPAD Bali dan Hipakad Denpasar-Badung Gelar Vaksinasi Massal

Rencana Tindak Lanjut atau RTL yang dihasilkan dari kegiatan pengabmas ini adalah kader kesehatan (Dokter Kecil) yang sudah mendapat pelatihan akan melakukan kegiatan penyuluhan pada adik kelasnya pada tahun ajaran baru 2024/2025. Para Dokter Kecil memasukkan kegiatan penyuluhan pada program kerjanya dengan nama program kerja “ASIK atau Anak Sekolah Bebas dari Infeksi Kecacingan”.

Kepala SDN 1 Ubud Ida Ayu Ella Yuanita, menyambut baik program ini karena dinilai sangat penting demi mewujudkan generasi emas. Ia mengharapkan kegiatan ini bisa tetap berlanjut mengingat penyakit cacingan sangat berbahaya bagi siswa. [rel]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top