UWRF 2026 Ajak Masyarakat Menyelaraskan Kesadaran, Empati, dan Tindakan melalui Sastra dan Budaya

IMG_20261007_224925
Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) akan kembali hadir di Ubud pada 21-25 Oktober 2026 dengan mengusung tema Samarasā: Awareness. Empathy. Action.

Tema Awareness, Empathy, dan Action juga berkaitan erat dengan cara kita memahami sejarah dan warisan budaya. Turut berbicara dalam konferensi pers yang diselenggarakan pada 7 Oktober 2026 di  Sanur, Marlowe Bandem, seorang praktisi kreatif Indonesia, membawa perspektif tersebut melalui keterlibatannya dalam Bali 1928 Archives, sebuah inisiatif yang berupaya melestarikan, mengembalikan, dan memperkenalkan kembali berbagai arsip sejarah Bali kepada publik.

“Bagi saya, hal terpenting yang dapat dilakukan generasi muda adalah berani bertanya. Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, mereka perlu membaca kembali apa yang mereka miliki, memahami pengetahuan yang diwariskan, dan berani mempertanyakan etika serta arah perubahan yang terjadi. Termasuk berani menyuarakan hal-hal yang pedih dan tidak nyaman, karena keberanian untuk bertanya adalah cara kita menentukan masa depan,” ujarnya.

Di UWRF tahun ini, Marlowe juga akan terlibat dalam sesi Burning Books, Accepting Artifice: Man or Machine?, yang membahas dampak perkembangan kecerdasan buatan terhadap pengetahuan, pemikiran kritis, dan kemampuan manusia dalam memahami dunia.

Suara generasi muda juga hadir melalui Nityasa Wijaya, salah satu UWRF 2026 Emerging Writers. Penulis generasi baru yang lahir dan besar di Bali ini melihat UWRF sebagai kesempatan untuk bertemu dengan pembaca, penulis, dan komunitas yang lebih luas, sekaligus menemukan dan mengembangkan suara sebagai penulis.

“Bagi saya, UWRF bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan karya, tetapi juga tempat menemukan teman, membangun jejaring, dan berdiskusi dengan sesama penulis lintas generasi. Terlebih ketika karya saya, Perempuan Buah Langit, yang mengangkat sudut pandang perempuan di tengah masyarakat patriarkal, terpilih untuk masuk dalam antologi dwibahasa, saya merasa suara seorang perempuan dapat didengar oleh lebih banyak orang,” ujarnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top