Semangat untuk mempertemukan orang, membuka ruang percakapan, dan membangun kembali rasa kebersamaan itulah yang terus menggerakkan festival ini hingga hari ini. Setiap tahun, kami mengangkat isu-isu yang menjadi perhatian kita bersama, karena saya percaya bahwa dengan berbicara dan mendengarkan satu sama lain, kita dapat mulai memahami satu sama lain.
Dari sastra hingga diskusi lintas budaya, UWRF terus menciptakan ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus mendengarkan perspektif yang berbeda. Dalam konteks dunia yang semakin kompleks, ruang untuk bertemu, berbicara, dan mendengarkan satu sama lain menjadi semakin penting.
Perspektif mengenai Samarasā kemudian diperluas oleh W. Mustika, akademisi, penulis, dan praktisi spiritualitas Nusantara.
Ia menyampaikan, dengan citta dan rasa, kita dapat menuliskan sesuatu yang mendamaikan umat manusia. Rasa yang sama akan melahirkan empati, dan empati mengajarkan kita untuk tidak saling menyakiti.
Itulah makna Samarasā yang menurut saya penting diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana kita memperlakukan alam, sesama manusia, dan apa pun jalan hidup yang kita pilih dengan rasa yang sama. Dari sanalah kita dapat membangun kedamaian dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi semua.”ujarnya
Di UWRF tahun ini, W. Mustika akan menghadirkan Walking the Sacred Cycle, sebuah program yang mengajak peserta memasuki tradisi kehidupan Bali melalui perjalanan berpemandu ke dua pura penting di Ubud.
Peserta akan mengenal konsep Kanda Pat dan mengunjungi Pura Dalem serta Pura Prajapati untuk melihat bagaimana masyarakat Bali memahami hubungan antara kehidupan dan kematian. W. Mustika juga akan bergabung dalam sesi panel Life and Death at Intersections, yang membahas bagaimana kehidupan dan kematian dipahami melalui perspektif sains, budaya, dan spiritualitas.









