Dwi Arbani mencontohkan Kabupaten Buleleng dengan luas wilayah sangat panjang belum terlayani secara merata sehingga kemungkinan masih ada warga membakar atau membuang sampah ke sungai. Sampah tersebut akan terbawa hingga pesisir dan menuju laut.
Fenomena ini harus dibereskan di level sumber sampah, tetapi diakuinya bahwa hal ini tidak bisa cepat dilakukan karena butuh proses panjang. Dikarenakan volume sampah di Bali terus meningkat dan akan semakin membutuhkan penanganan cepat. Perhitungan DLKH Bali pada dua tahun lalu menunjukkan konsumsi sampah per orang sudah mencapai 1,05 kg per hari dari sebelumnya 0,75 kg per hari.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ahmad Aris menilai TPS3R Seminyak bisa menjadi contoh penanganan sampah di pesisir untuk mengantisipasi sampah masuk ke laut.
Menurutnya, pola yang diterapkan TPS3R Seminyak bisa menjadi salah satu acuan, meskipun penanganan di tiap daerah berbeda-beda menyesuaikan daerah masing-masing.
“Masing lokasi berbeda. Saya lihat TPS3R Seminyak ini bisa kita lihat contohnya,” ungkapnya saat menjadi narasumber di lokasi sama.
Ahmad Aris menegaskan sampah laut menyebabkan dampak sangat luar biasa. Data KKP menunjukkan dari total 50 juta ton timbunan sampah di Indonesia, 40 persen bermuara di laut atau sekitar 27 juta ton.
Menurutnya, penanganan masalah ini sangat komplek karena setelah dipetakan, sumbernya ada 5 tempat. Pertama, ada 675 sungai di seluruh Indonesia melewati perkotaan dan perumahan yang diperkirakan menyumbang sampah ke laut.










