Luas wilayah dengan limpasan tinggi bertambah dari 21,9 persen menjadi 22,3 persen dan terkonsentrasi di koridor hilir yang datar serta padat bangunan, dekat muara dan pusat kota, ruas yang sama yang paling parah terdampak banjir September 2025.
“Subak bukan hanya warisan budaya. Ia juga infrastruktur hidrologi yang menahan, menyimpan, dan memperlambat air. Ketika subak hilang, kapasitas kota menahan hujan ikut hilang,” imbuh Doddy.
Hasil Pemodelan: Hujan Bulanan Saja Belum Cukup
Pada tahap pemodelan, tim menyaring variabel iklim dengan analisis komponen utama dan analisis faktor, lalu menguji jaringan syaraf tiruan umpan maju dengan algoritma perambatan balik pada data pelatihan 2006–2019, validasi 2020–2024, dan uji independen 2025 yang dikunci sejak awal.
Analisis statistik menunjukkan tiga komponen menjelaskan 69,95 persen variasi data, tetapi debit sungai ternyata hampir berdiri sendiri terhadap faktor iklim bulanan. Artinya, pada skala bulanan, debit Tukad Badung tidak dapat dijelaskan memadai oleh pola iklim regional.
Temuan ini tercermin pada kinerja model. Jaringan belajar dengan baik pada data pelatihan, tetapi kemampuannya menurun pada data yang belum pernah dilihat, dan model belum mampu menangkap puncak banjir.
Pada September 2025, debit bulanan teramati mencapai 26,365 m3/dt, sedangkan model dasar hanya memprediksi 4,771 m3/dt. “Kami memilih melaporkan hasilnya apa adanya. Model ini belum layak menjadi sistem peringatan dini yang berdiri sendiri.
Namun, kegagalannya memberi petunjuk yang jelas tentang apa yang harus diperbaiki, yaitu resolusi data yang lebih halus, memori waktu pada masukan model, dan perhatian khusus pada kejadian ekstrem,” tegas Dr. Doddy.










