Tim Peneliti Universitas Ngurah Rai Kembangkan Model Prediksi Banjir Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan dan Ungkap Peran Konversi Lahan Subak dalam Risiko Banjir Kota Denpasar

IMG-20261102-WA0012
Dr. Ir. Putu Doddy Heka Ardana, ST., MT., IPM., ASEAN Eng. (foto: istimewa)

Dua Dekade Data dan Observasi Langsung di Lapangan

Penelitian dilakukan di DAS Tukad Badung seluas sekitar 54,95 Km2 dengan panjang sungai utama 19,6 Km yang mengalir dari Kabupaten Badung hingga Teluk Benoa.

Tim mengolah data bulanan 2006–2025 dari BMKG Wilayah III Denpasar dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, mencakup tujuh variabel iklim, debit sungai, dan curah hujan dari empat stasiun, yaitu Sading, Buagan, Padangsumbu, dan Suwung Kangin. Seluruh data lolos uji konsistensi dan uji outlier sebelum curah hujan kawasan dihitung dengan metode Poligon Thiessen.

Tim juga turun langsung ke lapangan. Mahasiswa anggota tim menyurvei 16 subak di Denpasar Selatan, Denpasar Utara, dan Denpasar Barat dengan mencatat 1.557 titik berkoordinat pada saluran irigasi tersier, kemudian membandingkannya dengan batas historis subak.

Hasilnya, luas subak di Denpasar Selatan menyusut 36,32 persen, dari 292,6 hektare menjadi 186,3 hektare, dan satu subak, yaitu Subak Sesetan, hilang sepenuhnya menjadi permukiman.

Sawah Menyusut, Lahan Terbangun Meluas

Analisis citra satelit lima tahun acuan (2006, 2011, 2016, 2021, dan 2026) menunjukkan lahan terbangun di DAS Tukad Badung naik dari 57,18 persen menjadi 64,36 persen luas DAS. Pada periode yang sama, sawah berkurang dari 1.256,8 hektare menjadi 926,2 hektare atau turun sekitar 26 persen.

Laju perubahan kian cepat: hampir 69 persen penyusutan sawah dua dekade terakhir terjadi pada lima tahun terakhir.

Dengan metode Cook yang menggabungkan tutupan lahan, infiltrasi tanah, kemiringan lereng, dan kerapatan drainase, tim memetakan koefisien limpasan, yaitu ukuran seberapa besar hujan berubah menjadi aliran permukaan.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top