Ketiga, temuan lapangan menunjukkan adanya peran penting aktor periferal, generasi muda, serta otoritas adat dalam mendorong penerimaan ngaben krematorium. Proses penerimaan ini juga melibatkan mekanisme negosiasi sosial dan legitimasi simbolik melalui praktik keagamaan, seperti upacara meraun, yang berfungsi sebagai media konsensus kolektif.
"Dengan demikian, secara faktual dapat disimpulkan bahwa transformasi Ngaben di Desa Adat Pujungan merupakan hasil dari interaksi kompleks antara pengalaman empiris masyarakat, kebutuhan praktis, dinamika sosial, serta upaya menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas," ungkapnya.
Suterji berharap hasil penelitiannya bermanfaat bagi krama Desa Adat Pujungan dalam memahami ngaben krematorium. Temuan penting dari penelitian ini adalah, tradisi tidak bersifat statis, tetapi bersifat lentur dan adaftif terhadap modernisasi.
Sebagai saran, Suterji mengingatkan Krama Adat Pujungan, bahwa penting menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi agar ngaben tetap memiliki makna spiritual yang mendalam, meskipun dalam bentuk yang lebih praktis dan modern.
Bagi pemuka agama dan tokoh adat, diperlukan bimbingan berkelanjutan untuk memastikan bahwa transformasi tidak mengaburkan makna ritual, melainkan memperkuat nilai spiritual dan solidaritas sosial dalam masyarakat Adat Pujungan.
Bagi akademisi, penelitian lebih lanjut dapat memperluas cakupan wilayah dan membandingkan fenomena serupa di desa-desa lain di Bali untuk menemukan pola umum maupun keunikan lokal; dan bagi pemerintah daerah, perlu adanya kebijakan yang mendukung fasilitas krematorium dengan memperhatikan aspek budaya, kesehatan, dan lingkungan agar tidak hanya prsktis tetapi juga berkelanjutan.










