Teliti Fenomena Transformasi Ngaben Tradisional ke Krematorium Krama Desa Pujungan, Dosen STAH Bhatara Guru, Kendari Raih Doktor di UNHI

IMG-20260820-WA0020
Dr. Ni Ketut Suterji, SE., M.Fil.H., mendapatkan ucapan selamat dari Pimpinan Sidang/Rektor UNHI Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si., didampingi Promotor Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si. [foto: IGA. Adnyana]

Dari hasil penelitiannya, transformasi ngaben tradisional ke krematorium Krama Punjungan dilandasi faktor ekonomi, modernisasi, ideologi, sosiologi, budaya, dan faktor psikologis. 

Pada tataran praktis, proses ngaben berdasarkan awig-awig, proses negosiasi dalam musyawarah adat, dan proses legitimasi penerimaan krama nuwed. Implikasi terjadinya transformasi upacara ngaben, yaitu: implikasi sosial, implikasi budaya, implikasi seni budaya, implikasi psikologis, dan implikasi ekonomi. 

Suterji membeberkan tiga penemuan penting di lapangan. Pertama, transformasi upacara ngaben di Desa Adat Pujungan dari bentuk tradisional menuju Ngaben krematorium merupakan fenomena empiris yang berlangsung secara bertahap dan diterima secara kolektif oleh masyarakat. 

Proses ini, menurutnya, diawali dari praktik individual (mekingsan di geni) yang kemudian berkembang menjadi praktik komunal dan memperoleh legitimasi adat. 

"Keputusan masyarakat dalam memilih Ngaben krematorium tidak semata-matadi dasarkan pada pertimbangan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis, seperti rasa aman, pengurangan kecemasan, dan kebutuhan akan kepastian dalam pelaksanaan ritual," imbuh dia.  

Selain itu, terdapat pengalaman empiris masyarakat terhadap risiko dan kompleksitas ngaben tradisional yang turut mendorong peralihan ke krematorium. 

Kedua, pada tataran sosial-budaya, ditemukan adanya solidaritas dari partisipasi kolektif (ngayah) menuju keterlibatan yang lebih terbatas pada keluarga inti, serta meningkatnya peran lembaga profesional dalam pelaksanaan upacara. Meskipun demikian, nilai-nilai sakral dan keyakinan spiritual tetap dipertahankan, sehingga transformasi yang terjadi bersifat adaptif, bukan substitutil ran bentuk sol pergeseran

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top