“Kebetulan dari pihak Narayan Seva Sansthan Udaipur mempercayakan saya untuk menjalankan misi aksi kemanusiaan ini. Setelah Bali, mungkin kami akan ke daerah-daerah lain. Kami terbuka untuk berkolaborasi demi tujuan kemanusiaan,” ujarnya.
Pembina Yayasan Puspadi Bali Prof. Wayan Runa, mengapresiasi seluruh donatur. Menurutnya, semua manusia berhak bergerak, menjalani kehidupannya sehari-hari.
"Mungkin bagi orang normal, kaki palsu itu enggak ada artinya. Tapi bagi mereka yang membutuhkan tentu sangat luar biasa nilainya," jelasnya.
Kaki palsu yang akan dibagikan nanti, menurutnya, juga memiliki keunggulan dibanding produk serupa yang diproduksi pihak lain. Keunggulannya terletak pada berat benda. Kaki palsu yang didistribusikan nanti jauh lebih ringan. Sekitar 2 kilo gram, sehingga pengguna merasa nyaman layaknya kaki asli.
Anggota DPD RI perwakilan Bali, Shri Gusti Arya Wedakarna (AWK), mengatakan inisiatif kerja sama ini mulai dirintis pada Juli 2026 melalui pertemuan dengan pihak Narayan Seva Sansthan dan Sonia Kaur di kantor DPD RI. Ia kemudian mempertemukan lembaga asal India tersebut dengan Yayasan Puspadi Bali untuk menjajaki kolaborasi membantu penyandang disabilitas.
“Dari pertemuan tersebut, kami mendampingi dan ternyata tercipta kesepahaman. Ternyata, kami menemukan bahwa daftar antrean warga yang membutuhkan kaki palsu gratis ini sangat banyak,” kata AWK.
Menurut AWK, kuota 150 penerima manfaat terpenuhi dalam waktu sekitar satu bulan sejak sosialisasi program dilakukan. Para penerima berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Lombok dan pulau-pulau lainnya.










