Ketua panitia Our Religion is Humanity, Sonia Kaur, mengatakan sekitar 80 peserta menjalani pengukuran pada hari pertama, sedangkan 70 peserta lainnya dijadwalkan pada hari kedua. Setelah pengukuran, kaki palsu akan diproduksi dan ditargetkan diserahkan sekitar 2,5–3 bulan kemudian, atau pada Desember 2026.
"Hari ini [Jumat 9/10] peserta sebanyak 150 datang untuk diukur kakinya. Istilahnya, kaki yang didapatkan nanti sesuai dengan kebutuhan individu. Supaya pas," jelas Sonia.
Penyerahan bantuan nantinya disertai proses fitment atau penyesuaian kaki palsu serta pelatihan penggunaan. Dengan tahapan tersebut, penerima manfaat diharapkan dapat menggunakan alat bantu sesuai kondisi fisik dan kebutuhan aktivitas masing-masing.
Sonia menjelaskan, kaki palsu yang disiapkan menggunakan teknologi yang menurutnya lebih ringan dibandingkan produk konvensional. Ia menyebut kaki palsu konvensional dapat berbobot sekitar 8–9 kilogram, sedangkan produk dalam program ini berkisar 3–4 kilogram. Masa pakainya diperkirakan sekitar 3–4 tahun, bergantung pada penggunaan dan perawatan.
Program ini memiliki sejumlah persyaratan bagi calon penerima, antara lain warga negara Indonesia berusia 8–60 tahun yang telah menjalani amputasi atau operasi akibat kecelakaan lebih dari enam bulan sebelumnya. Kondisi luka harus sudah kering dan calon penerima perlu memenuhi persyaratan medis untuk menggunakan kaki palsu.
Sonia mengatakan program tersebut merupakan kegiatan pembagian kaki palsu gratis pertama yang dijalankan melalui kolaborasi ini di Indonesia. Ia berharap program dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak daerah dengan dukungan donatur serta instansi pemerintah.










