Sabar dan Sadar

Gung Eddy Sabar dan Saadar-95f99c09

Secara lugas Tilaar (2012) bahan menyampaikan bahwa pendidikan nasional yang tanpa arah karena tidak didasarkan pada nilai dan kebudayaan nasional tidak akan menghasilkan manusia-manusia yang berbudaya dan beradab, tetapi menghasilkan buaya-buaya atu predator.

Dalam konteks perjuangan pembangunan bangsa hal demikian tentu sangat disayangkan. Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi, pemuda membutuhkan pegangan untuk terus bergerak memperjuangan nilai-nilai dalam mencapai cita-cita bersama berlandaskan semangat persatuan seperti yang telah diwariskan para pemuda pada era sebelumnya. Perlu dilakukan pemaknaan kembali pendidikan perlu dilakukan untuk mengembalikan marwah pendidikan sebagai lembaga yang memanusiakan manusia.

Perjalanan bangsa ini masih panjang. Generasi muda yang unggul sangat dibutuhkan untuk mengawal perjalanan tersebut agar tidak berhenti di tengah jalan. Upaya sistemik untuk merevitalisasi kualitas pemuda Indonesia perlu diformulasikan kembali. Modal kearifan lokal dan kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia harus ditegakkan kembali sebagai landasan pendidikan. Berikan kesempatan yang seluas[1]luasnya kepada generasi muda Indonesia untuk mengeksplorasi kearifan lokal dan kekayaan budaya Indonesia untuk kesejahteraan dirinya dan masyarakat Indonesia.

Meskipun dihadapkan pada tantangan yang besar, harapan akan adanya perubahan bangsa ini masih terletak di tangan pemuda. Terlebih di tahun 2045 merupakan tulang pungung pembangunan bangsa. Komitmen untuk melakukan perbaikan tersebut secara sabar dan sadar harus dijalankan dan dicita[1]citakan bersama. Sabar untuk melakukan perbaikan pada pengembangan kualitas generasi muda Indonesia. Sadar bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Internalisasi nilai dan budaya memainkan peranan penting sebagai kompas bagi generasi muda untuk membawa negeri ini mengaruhi lautan perubahan. (*)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top