Sabar dan Sadar

Gung Eddy Sabar dan Saadar-95f99c09

Menilik masalah tersebut, pendidikan nasional kerap dituding sebagai sumber masalah rendahnya kualitas pemuda Indonesia. Pendidikan dinilai “kering” akan nilai dan terlepas dari kebudayaan. Pendidikan terlalu banyak menstandarkan diri pada standar-standar yang diadopsi dari negara-negara maju, sehingga terjadi pengabaian terhadap nilai dan kebudayaan lokal. Pendidikan belum mampu untuk memberikan ruang yang cukup untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang berakar dari kebudayaan dan kearifan lokal.

Membekali pemuda dengan berbagai pengetahuan memang penting agar mereka menjadi siap akan segala perubahan yang terjadi, namun tanpa pengembangan core value mereka akan “tersesat" dan terjebak dalam intelektualitas semu. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Atmadja (2014) yang mengungkap bahwa kondisi masyarakat indonesia yang semakin carut marut baik secara ekonomi, sosial, budaya, maupun ekologi merupakan salah satu bentuk adanya pengabaian aspek kebudayaan dan nilai dalam iptek. Bila dianalogikan, fenomena ini seperti adanya pengabaian terhadap paradigma Saraswati sebagai Dewi Kebudayaan, Dewi Kebijaksanaan, sehingga terjadi desakralisasi dan dehumanisasi terhadap iptek.

Dalam konteks kearifan lokal lain, Pagerwesi, pengetahuan yang dimiliki harus “dipagari” dengan keteguhan dan iman. Hanya dengan begitu manusia terhindar dan dijauhkan dari sifat awidya (kegelapan) yang ada dalam diri manusia. Karena jika sifat awidya tidak terkendalikan dapat menimbulkan berbagai macam tindakan mulai dari iri, dengki, marah, kejam, memfitnah, hingga sikap apatis dan egois.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top