Tidak edikit orang tua yang baru menyadari anaknya mengalami gangguan penglihatan ketika guru mengeluhkan anak tersebut kesulitan membaca tulisan di papan tulis.
Ada pula yang mulai curiga karena anak sering menyipitkan mata saat melihat benda di kejauhan atau memilih duduk sangat dekat dengan televisi.
Ketika hal itu terjadi, banyak orang tua langsung mengaitkannya dengan kebiasaan menggunakan perangkat digital. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak selalu benar.
Miopia atau rabun jauh pada anak merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga faktor keturunan.
Memahami faktor-faktor tersebut penting agar upaya pencegahan dan deteksi dini dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Saat ini, miopia menjadi salah satu masalah kesehatan mata yang mendapat perhatian dunia.
Jumlah penderitanya terus meningkat dan diperkirakan hampir setengah populasi dunia akan mengalami miopia pada tahun 2050.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rabun jauh bukan lagi sekadar masalah individu, melainkan tantangan kesehatan masyarakat yang perlu diantisipasi sejak dini.
Secara umum, miopia terjadi akibat interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Aktivitas jarak dekat seperti membaca, menulis, atau menggunakan perangkat digital dalam waktu lama sering dikaitkan dengan peningkatan risiko miopia.
Risiko tersebut dapat meningkat apabila aktivitas dilakukan dalam jarak yang terlalu dekat dengan mata dan tanpa diselingi waktu istirahat yang cukup.
Selain itu, faktor keturunan juga memiliki peran penting.
Anak yang memiliki orang tua kandung dengan riwayat rabun jauh diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Oleh karena itu, orang tua dengan riwayat miopia perlu lebih memperhatikan kesehatan mata anak dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
Sebaliknya, aktivitas di luar ruangan memberikan manfaat bagi kesehatan mata. Aktivitas luar ruangan dan paparan cahaya alami selama sekitar dua jam setiap hari dilaporkan dapat membantu menurunkan risiko timbulnya miopia pada anak, terutama pada mereka yang memiliki riwayat keluarga rabun jauh.
Karena itu, mendorong anak untuk lebih sering bermain dan beraktivitas di luar rumah dapat menjadi salah satu langkah sederhana yang bermanfaat bagi kesehatan penglihatannya.
Selain mendorong aktivitas di luar ruangan, orang tua juga dapat membiasakan anak menerapkan aturan 20-20-20 saat belajar atau menggunakan perangkat digital.
Aturan ini menganjurkan untuk mengistirahatkan mata setiap 20 menit dengan mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi kelelahan mata akibat aktivitas melihat dekat yang berkepanjangan.
Karena anak sering kali tidak menyadari bahwa penglihatannya bermasalah, pemeriksaan mata rutin memegang peranan penting dalam mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini.
Pemeriksaan mata sebaiknya dimulai sejak bayi dan dilakukan secara berkala sesuai usia anak. Selain oleh dokter mata, skrining penglihatan juga dapat dilakukan oleh dokter anak atau tenaga kesehatan terlatih untuk mengenali tanda-tanda awal kelainan mata.
Memasuki usia sekolah, pemeriksaan penglihatan menjadi semakin penting karena miopia merupakan salah satu gangguan penglihatan yang paling sering ditemukan pada kelompok usia ini.
Anak yang mengalami kesulitan melihat tulisan di papan tulis, sering menyipitkan mata, atau mengeluh penglihatan kabur saat melihat jauh perlu menjalani pemeriksaan mata lebih lanjut.
Pada akhirnya, miopia pada anak bukan hanya persoalan penggunaan gadget, tetapi merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keturunan, kebiasaan visual, dan lingkungan.
Dengan pemeriksaan mata yang rutin serta penerapan kebiasaan yang sehat, gangguan penglihatan dapat dideteksi lebih dini sehingga anak dapat tumbuh, belajar, dan beraktivitas secara optimal.
Mata adalah jendela dunia bagi anak. Menjaganya sejak dini berarti membantu mereka melihat masa depan dengan lebih jelas.***
Penulis: dr. Made Padma Diani Putri.










