Probiotik Turunkan Risiko Sakit Pencernaan pada Anak

(Last Updated On: )

DENPASAR-fajarbali.com | Bagi orang tua yang baru memiliki anak, menjaga kesehatan saluran pencernaan bayi bukanlah perkara yang mudah. Dalam menjamin proses tumbuh kembang dan memperkokoh sistem pengembangan sistem imun anak, menjaga saluran pencernaan adalah keniscayaan. Meski demikian, tidak semua orangtua bisa mengenali gejala masalah pencernaan pada bayi. Apalagi, jika harus mendapati beberapa mitos yang berkaitan dengan bakteri pada pencernaan anak.

Seperti diketahui, kesehatan saluran cerna sangat penting bagi tubuh sebagai satu-satunya pintu masuk nutrisi, peran nutrisi dan microbiota baik dalam saluran cerna bersimbiosis mendukung daya tahan tubuh, kecerdasan dan perilaku anak. Pemberian probiotik pada bayi dan anak sehat, pada awal diare akut akibat infeksi virus (acute viral gastroenteritis), dapat menurunkan lama sakit selama satu hari lebih cepat dibandingkan bayi/anak yang tidak diberikan probiotik. 

Untuk menjamin asupan probiotik, menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Frieda Handayani, SpA(K), asupan probiotik pada awal kehidupan bayi didapatkan dari air susu ibu (ASI) mampu membantu mengoptimalkan kesehatan saluran cerna, meningkatkan daya tahan tubuh serta menunjang tumbuh kembang anak dan kecerdasan dan perilaku anak.

“Hal ini dikarenakan ASI didominasi oleh jenis probiotik Streptococcaceae, diikuti Bifidobacterium dan sebagian kecil Lactobacillus. Mekanisme kerja probiotik bagi perkembangan anak juga sangat beragam, seperti meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengaktivasi makrofag dan produksi Imunoglobulin A, menginduksi toleransi terhadap antigen makanan, meningkatkan fungsi pertahanan saluran cerna, mengubah pH lingkungan saluran cerna agar bakteri patogen tidak dapat hidup, sertamemproduksi enzim lactase, dan berkompetisi dengan bakteri pathogen,” paparnya, Selasa (15/12).

Sayangnya, efektivitas mikrobiota cerna dalam tubuh anak memiliki kualitas berbeda tergantung dari faktor pengembangnya. Adapun faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah Bifidobacterium pada bayi antara lain; penggunaan antibiotic – PPI, metode persalinan, pemberian ASI, stres, infeksi, dan kebiasaan merokok. “Biasanya jumlah probiotik Bifidobacterium jauh lebih rendah pada usus bayi yang lahir sesar, jika dibandingkan dengan usus bayi yang lahir normal,” terang Frieda.

Dia pun menyebut jika jumlah bakteri baik meningkat, bayi akan sehat. Sebaliknya, bila jumlah bakteri tidak baik meningkat, maka risiko penyakit, alergi dan obesitas meningkat. “Probiotik juga ditemukan cukup efektif dalam mencegah diare akibat konsumsi antibiotik jangka panjang pada anak sehat,” pungkasnya. (dhar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ajak Industri Wisata Terapkan CHSE, Dispar Badung Gelar Gathering Kepariwisataan

Sel Des 15 , 2020
(Last Updated On: )MANGUPURA-fajarbali.com | Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Badung kembali menggelar Gathering Kepariwisataan Implementasi Protokol Kesehatan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Enviroment) Menuju Pariwisata Kabupaten Badung Berkualitas. Kali ini kegiatan diadakan di Kecamatan Kuta Utara bertempat di The Trans Resort Bali, Selasa (15/12).

Berita Lainnya