Wujudkan Pariwisata Hijau, ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Sulap Sampah Organik Menjadi Eco Enzyme

ITDC-gandeng-masyarakat-Benoa-kelola-sampah-organik-menjadi-eco-enzyme
ITDC gandeng masyarakat Benoa kelola sampah organik menjadi eco enzyme.

MANGUPURA-fajarbali.com | Dalam upaya nyata mempercepat terciptanya ekosistem pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) secara resmi menggelar pelatihan pengolahan sampah organik berbasis komunitas. Mengusung tajuk “Green Movement: Eco Enzyme Action”, kegiatan edukatif ini diselenggarakan di Gedung Wantilan ITDC, kawasan destinasi internasional The Nusa Dua.

Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk menekan volume residu buangan, melainkan juga dirancang untuk mengintegrasikan kesadaran ekologis masyarakat lokal dengan standarisasi kawasan wisata hijau. Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang merepresentasikan pilar-pilar penggerak ekonomi dan sosial di tingkat tapak. Komposisi peserta mencakup 18 pelaku usaha yang tergabung dalam pedagang Pantai Paguyuban The Nusa Dua, serta 12 perwakilan masyarakat Kelurahan Benoa melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).

Vice President Commercial & Relation The Nusa Dua, Made Purnama Damayanti, menegaskan bahwa inisiatif ini dirancang sebagai instrumen stimulan untuk menumbuhkan kebiasaan adaptif yang praktis sekaligus berdampak masif. Pihaknya meyakini bahwa manajemen reduksi sampah idealnya diinisiasi dari ruang domestik demi keberlangsungan ekosistem yang lebih luas. “Melalui pemanfaatan cairan fermentasi ini, masyarakat didorong untuk proaktif mentransformasikan limbah organik harian menjadi produk multiguna, sehingga lambat laun berkembang menjadi sebuah kebiasaan kolektif yang memperkokoh ketahanan lingkungan di sekitar kawasan destinasi,” ungkapnya.

Sepanjang sesi lokakarya, para peserta dibekali dengan pemahaman teoritis komprehensif sekaligus praktik langsung untuk mengolah limbah dapur organik menjadi eco enzyme. Cairan serbaguna hasil fermentasi tersebut memiliki nilai guna tinggi, baik sebagai pupuk organik cair yang menyuburkan tanah maupun sebagai agen pembersih alami yang bebas bahan kimia berbahaya.

Guna menjamin mutu transfer pengetahuan, ITDC menghadirkan I Made Tirta Jati, pakar lingkungan sekaligus Ketua Unit TPS3R Sadu Sumerta Kaja, Denpasar, yang secara gamblang membedah formula dan metodologi pengolahan yang higienis serta efektif.

BACA JUGA:  Langkah Maju Konservasi Laut, 12 Kampus Indonesia-Timor Leste Bentuk LSS Science Hub di Bali

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang yang terukur, program ini tidak berhenti pada seremonial pelatihan semata. ITDC telah memformulasikan program pendampingan intensif selama dua bulan ke depan untuk memantau, mengevaluasi, serta membimbing proses fermentasi yang dilakukan mandiri oleh setiap peserta di lingkungan masing-masing. Langkah supervisi ini sengaja diintegrasikan untuk memastikan ketepatan aplikasi materi di lapangan, mengurai kendala teknis yang dihadapi warga, sekaligus mendokumentasikan output nyata dari komitmen pengolahan sampah mandiri tersebut.

“Program Green Movement ini merupakan manifestasi nyata dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ITDC yang berkaitan erat dengan skema pengembangan masyarakat (community development). Bagi kami, pelibatan aktif warga sekitar bukan sekadar pelengkap aktivitas korporasi, melainkan instrumen krusial dalam menjaga reputasi serta kualitas kawasan pariwisata bertaraf internasional. Melalui investasi sosial ini, diharapkan semangat menjaga kebersihan dan kelestarian alam dapat melembaga menjadi bagian tidak terpisahkan dari gaya hidup keseharian masyarakat Bali,” pungkas Purnama Damayanti. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top