Profil Lulusan Skarisba 2025/2026: Sebagian Besar Langsung Terserap Dudi, Sisanya Melanjutkan ke Perguruan Tinggi

IMG-20260509-WA0031
Kepala SMKS PGRI 1 Badung (Skarisba) Ari Nesa Wijaya menyerahkan secara simbolis lulusan tahun 2025/2026 kepada ketua komite sekolah, bertempat di Hotel Made Bali, Badung, Sabtu (9/5/2026).

MANGUPURA-fajarbali.com | SMKS PGRI 1 Badung (Skarisba) melepas 70 murid kelas XII lulusan tahun ajaran 2025/2026 dari kompetensi pariwisata, dan kuliner, bertempat di Hotel Made Bali, Sempidi, Mengwi, Badung, Sabtu (9/5/2026).

Berdasarkan penelusuran awal, 40 persen lulusan bakal meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, sisanya, 60 persen memilih langsung bekerja, karena memang langsung terserap dunia usaha dan dunia industri (dudi).

Kepala Skarisba Gede Ari Nesa Wijaya, SH., MH., mengungkapkan, lulusan tahun ini merupakan angkatan ke 33. Skarisba pertama kali menelurkan lulusan tahun 1993 silam. Dengan demikian, sekolah kejuruan unggulan di Gumi Keris itu telah berkontribusi menyumbang ribuan sumber daya manusia bidang pariwisata untuk Bali.

Dari tahun ke tahun, kata Ari Nesa, lulusannya tidak pernah ada yang menganggur. Salah satu strateginya, Skarisba memperluas kerja sama dengan ndustri. Sehingga saat praktik lapangan atau magang, industri tersebut sudah kepincut dengan kualitas peserta didiknya.

"Jadi sebenarnya anak-anak kami ini sudah bekerja di saat masih sekolah. Mitra industri kami sudah kepincut dengan kualitasnya. Kalau ada yang melanjutkan [kuliah] itu bagus juga untuk meningkatkan lagi kompetensi dirinya," ungkap Ari Nesa.

Ari Nesa berharap, upacara kelulusan hari ini menjadi tonggak awal perjalanan panjang alumni. Alumni didorong mengimplementasikan segala ilmu yang didapatkan selama tiga tahun di bangku sekolah untuk diterapkan di dunia kerja/masyarakat.

Tak kalah penting, Ari Nesa menyebut bahwa alumni adalah cermin institusi pendidikan. Sehingga penting menjaga perilaku. "Setelah pelepasan ini, tingkah laku kalian menjadi cerminan almamater SMKS PGRI 1 Badung. Karena itu tetap jaga sikap. Teruslah belajar," kata Ari Nesa sembari mengucapkan selamat.

Pelepasan menurutnya bukan akhir dari segalanya. Justru ia mengajak para alumni membuat wadah agar tetap menjadi keluarga besar SMKS PGRI 1 Badung dengan prinsip "sekali menjadi keluarga, tetap keluarga". Pihaknya pun membuka pintu lebar-lebar sebagai ruang komunikasi alumni.

BACA JUGA:  Insentif bagi Peserta Masuk PPLP PPLP Dhyana Pura Gelar LKP SMK  

Pada kesempatan yang sama Pengawas SMK Disdikpora Provinsi Bali Drs. I Gusti Made Bawasuarya, M.Pd., mengaku tidak meragukan lagi kualitas SMKS PGRI 1 Badung. Salah satunya karena berada di bawah binaan tokoh pendidikan senior, Dr. Drs. I Made Gede Putra Wijaya, SH., M.Si.

Bawasuarya menambahkan, mengetahui betul bagaimana Putra Wijaya dan para pendiri lain berdarah-darah mendirikan SMKS PGRI 1 Badung tiga dekade lalu. Saat itu, di tengah keterbatasan mampu mendirikan sekolah kejuruan yang akhirnya menjadi salah satu SMK unggulan.

Bawasuarya juga melaporkan rapor keterserapan lulusan SMK di Bali yang mencapai 94 persen. Namun terjadi penurunan dalam indeks pelayanan minimal (SPM) dari kategori Tuntas Madya ke Pratama. Salah satu pemicunya masih adanya angka putus sekolah. Pihaknya pun bakal menargetkan kembali meraih Tuntas Madya.

"Jadi perlu dicek terus menerus antara jumlah yang dilepas tahun ini, apakah sama dengan jumlah waktu mereka masuk. Jika kurang, mereka itu kemana, apakah pindah atau putus sekolah," kata Bawasuarya.

Terkait SPM SMK, jelasnya, adalah ketentuan jenis dan mutu pelayanan dasar wajib yang berhak diterima setiap peserta didik, mencakup kurikulum, sarana prasarana, guru, serta pengelolaan untuk menjamin mutu lulusan. Ini mencakup 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan memastikan cakupan layanan pendidikan yang adil serta berkualitas.

SPM bertujuan memastikan 100% layanan dasar dipenuhi, dengan komposisi jenis layanan 20% dan mutu layanan 80% untuk mencetak lulusan kompeten.

Senada dengan Ari Nesa, Bawasuarya juga menyoroti sikap atau attitude dalam bekerja. Ini menjadi poin paling penting bagi pelaku industri. Sebab kalau soal keahlian, bisa dengan mudah diajarkan.

"Saya sering mendengar kata pengusaha yang dipentingkan itu sikap. Kalau keahlian bisa dilatih 3 Minggu sudah oke. Tantangan ini terus kami gaungkan di setiap SMK," ujarnya.

BACA JUGA:  Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNUD Gelar ICS Pacific Federation Meeting 2022

Lulusan dari kompetensi perhotelan Kadek Yodi Venanda Putra, mengaku memilih bekerja setelah menamatkan studinya di Skarisba. Ia melanjutkan pekerjaan di bidang hospitality tempatnya magang.

Sementara Kadek Iin Diana Putri, memastikan dirinya melanjutkan ke perguruan tinggi mengambil program sarjana. "Tapi kampusnya masih saya pilih-pilih dulu," ungkap Iin.

Bagi Iin dan rekan-rekannya, momentum pelepasan ini penuh kenangan yang tak terlupakan selama tiga tahun mengarungi suka duka bersama. Para lulusan sepakat bahwa mereka akan bertemu lagi dalam versi terbaiknya masing-masing.

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top