BANGLI-fajarbali.com | Tim peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar yang terdiri dari M. Choirul Hadi, SKM, M.Kes (ketua tim), Ni Ketut Rusminingsih, SKM, M.Si, I Nyoman Sujaya, SKM, MPH, Ida Bagus Suadistana, A.Md.Kes (anggota) dan I Made Arnata (Nohama Pest Control), menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang pengendalian lalat di Kintamani.
FGD yang berlangsung di Pramana Zahill Resort Kintamani, 22 Juli 2026, lalu, menghadirkan berbagai instansi terkait di Kabupaten Bangli yang berkaitan dengan pengendalian lalat, seperti Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP), Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, Balai Perlindungan Tanaman dan Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), para dosen dan mahasiswa, Assosiasi Perusahaan Pengendali Hama (ASPHAMI) serta para petani.
Choirul Hadi, selaku Ketua Tim peneliti terlebih dahulu penyampaian hasil penelitian pada tahun 2025. Kata Choirul, hasil penelitiannya tentang kepadatan lalat di Kintamani menggunakan perangkap lalat yang dikembangkan menunjukkan bahwa lalat di Kintamani sudah mencapai tingkat sangat padat dan perlu segera ditindaklanjuti.
Menurut Choirul, penelitian tahun pertama menemukan indeks populasi lalat masuk kategori sangat padat. "Lonjakan lalat berkaitan dengan penggunaan pupuk kandang mentah yang dibiarkan terbuka dan pengendalian yang masih mengandalkan penyemprotan reaktif," jelas Choirul.
Ia menambahkan, Bangli perlu menetapkan pilot Integrated Vector Management selama 12 bulan yang memprioritaskan pengolahan pupuk kandang, surveilans rutin, perangkap dan fly-proofing, serta penggunaan insektisida terdaftar secara selektif.










