Selama ini, perusahaan daerah yang diberi mandat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat tersebut, menggunakan air 750 liter/detik, yang mana 85 persennya adalah air tanah melalui 38 titik sumur bor kedalaman 150 meter.
"Kami akan maksimalkan air permukaan (baku) dengan memanfaatkan aliran sungai Ayung, Das Tukad Oos, Pencet, Unda dan yang lain. Sementara sumur bor kita bisa tutup bertahap. Tapi yang kualitas airnya masih bagus kita pertanyakan dulu," jelas Suastika.
Perumda Tirta Sanjiwani, kata Suastika, mengaliri hampir 62 ribu pelanggan didominasi rumah tangga. Ia optimistis, dengan dukungan semua pihak, termasuk pihak ketiga, rencana pemanfaatan air permukaan bisa direalisasikan.
"Kenapa kami perlu dukungan maksimal, karena mengolah air permukaan butuh proses yang lebih panjang sebelum didistribusikan. Beda dengan air tanah dalam yang memang kualitasnya sudah bagus. Hanya butuh satu sentuhan bisa langsung distribusi," ungkapnya.
Suastika mengingatkan, eksploitasi air memang harus diatur oleh pemangku kebijakan demi kelangsungan hidup anak cucu ke depan. "Kita berpikirnya tidak hari ini saja. Tapi generasi ke depan," kata Suastika.










