Heri mengungkapkan, pengabmas ini didasari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada Tahun 2023 menunjukkan prevalensi kanker di Provinsi Bali lebih tinggi daripada rata-rata nasional, yaitu mencapai 1,2 permil.
Menurut Heri, beberapa infeksi kronis merupakan faktor risiko kanker, hal ini merupakan masalah khusus di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, dimana Sekitar 13% kanker yang didiagnosis pada tahun 2018 secara global disebabkan oleh infeksi karsinogenik.
"Hati merupakan organ tubuh yang paling sering mengalami kerusakan apabila terkena toksik. Zat toksik yang masuk kedalam tubuh akan mengalami peroses detoksefikasi (dinetralisasi) di dalam hati oleh fungsi hati," jelasnya.
Ia menambahkan, SGPT merupakan salah satu enzim yang keberadaan dan kadarnya dalam darah dijadikan penanda terjadinya gangguan fungsi hatidan juga dapat tanda terjadinya kanker hati.
Beberapa kegiatan yang dilakukan pada kegiatan, antara lain: senam lansia, penyuluhan tentang kanker hati, pemeriksaan Kesehatan (antara lain: berat badan, tinggi badan dan tekanan darah), pemeriksaan laboratorium (antara lain: pemeriksaan kadar gula darah dan SGPT), serta pemberian obat gratis.
Ia mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang terlibat pada kegiatan ini, antara lain, Perbekel Desa Sayan dan jajaran, Puskesmas Ubud 2, pengelola Pasar Adat Desa Sayan, serta masyarakat setempat.
Perbekel Desa Sayan, I Ketut Gede Kesumujaya, S.Sis., M.Ag, menyampaikan, mewakili masyarakat menyambut baik program ini yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya.










