Bagi Turun, perkembangan penulisan lontar saat ini menghadapi tantangan sekaligus peluang. Tantangan terbesar adalah regenerasi. “Sekarang membaca aksara Bali Kuna saja sudah jarang yang bisa. Kalau tidak diwariskan, bisa hilang,” ujarnya.
Namun ia juga melihat adanya harapan melalui kegiatan Bulan Bahasa Bali dan meningkatnya perhatian terhadap dokumentasi serta penelitian naskah kuno. Menurutnya, lontar bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang memuat sejarah, tata kehidupan, hingga nilai spiritual masyarakat Bali.
Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama yang diterimanya menjadi penegasan atas konsistensi dan pengabdiannya menjaga warisan literasi tradisional Bali. Lebih dari sekadar prestasi pribadi, penghargaan itu menjadi simbol bahwa kerja sunyi para penulis lontar tetap mendapat tempat dalam pembangunan kebudayaan Bali.
Di usianya yang tak lagi muda, I Wayan Turun tetap tekun menulis. Baginya, selama tangan masih mampu menggores aksara di atas lontar, selama itu pula warisan leluhur akan terus ia jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya.
Atas dedikasi serta komitmenya melestarikan aksara dan Bahasa Bali, I Wayan Turun mendapatkan Anugerah Bali Kerti Nugraha Mahottama berhak mendapat uang senilai Rp 100 juta dan pin emas seberat 25 gram.
Berikut beberapa karya I Wayan Turun diantaranya Geguritan Penataran, Kidung Kidalang Pricek, Geguritan Busana dan Geguritan Bali Batur.










