Nama Segiri lahir dari gabungan Sepang dan Wanagiri dua daerah dengan karakter kopi yang berbeda. Sepang dikenal dengan robustanya yang pahit, sementara Wanagiri memiliki karakter rasa yang lebih asam. Filosofi itu ia satukan dalam satu cangkir, menghadirkan cita rasa baru yang berusaha menjembatani robusta dan arabika.”Selama ini robusta hanya dianggap kopi murahan, padahal di balik kepahitannya ada potensi besar. Saya ingin membuktikan bahwa robusta juga bisa punya rasa yang halus dan berkelas,” ujar Wardana, sambil menunjukkan biji kopi hasil fermentasi yang baru ia olah.
Proses yang dijalani Wardana jauh dari sekadar menyangrai dan menggiling biji. Ia melakukan eksperimen fermentasi dengan cara yang unik: menggunakan enzim rayap untuk fermentasi anaerob (tertutup tanpa udara), dan ragi tempe untuk fermentasi aerob (terbuka dengan udara). Biji robusta pilihan ia biarkan berfermentasi selama satu hingga tiga hari. Sehari menghasilkan rasa lebih lembut, sementara dua hingga tiga hari menghadirkan sensasi asam yang lebih kuat, mendekati karakter arabika.”Kalau fermentasi satu hari, rasa robustanya jadi lebih ringan. Kalau tiga hari, asamnya keluar dan mendekati arabika. Dari situ konsumen bisa memilih sesuai lidahnya,” jelas Wardana.
Produksi Segiri Kopi masih terbatas. Dari lima kilogram biji robusta, hanya sekitar tiga hingga tiga setengah kilogram bubuk kopi yang dihasilkan. Produk dijual Rp25.000 per seratus gram atau Rp250.000 per kilogram. Meski sederhana, peminatnya mulai bermunculan. Beberapa konsumen bahkan meminta fermentasi khusus sesuai selera.










