Kegiatan dalam SIDAYA pun dirancang beragam dan menyentuh langsung kebutuhan mereka. Ada pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi penyakit sejak dini, sekaligus mengidentifikasi siapa yang masih aktif dan siapa yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Ada juga pendampingan berbasis keluarga, yakni perawatan jangka panjang (PJP) yang memastikan lansia tak berjalan sendiri, melainkan dikelilingi dukungan orang terdekat.
Tak berhenti di situ, SIDAYA juga menyediakan akses ke Sekolah Lansia sebagai ruang belajar sepanjang hayat. Di sana, para lansia bisa terus memperkaya pengetahuan, menjaga kesehatan mental, dan merasakan kebersamaan.
Bagi mereka yang masih ingin berkarya, tersedia program Lansia Entrepreneur, yakni pelatihan ekonomi produktif agar tetap aktif di bidang usaha. Semua ini dipadukan dengan Kartu SIDAYA, identitas khusus yang memberi kemudahan akses layanan dan memastikan hak-hak lansia terpenuhi.
Pada akhirnya, SIDAYA tidak hanya sekedar program biasa, melainkan gerakan untuk mengubah cara pandang kita terhadap lansia. Bahwa mereka bukan beban, melainkan bagian penting dari masyarakat yang layak diberi ruang untuk terus sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat.
Perlu Dukungan Serius
Inovasi ini sudah mendapat respon positif dari beberapa daerah di Bali. Kabupaten Badung, misalnya, siap memberikan insentif sebesar satu juta untuk setiap lansia berusia 75 tahun ke atas.
Namun, tantangan sesungguhnya ada pada praktik di lapangan. Apakah desa-desa sudah menyiapkan ruang ramah lansia? Apakah fasilitas publik cukup inklusif? Apakah keluarga tetap bisa menjadi tempat pulang yang hangat?










