“Menua dengan Bermakna: Saatnya Lansia Jadi Sumber Kekuatan Bangsa”

IMG-20251005-WA0002
Peserta Wisuda Sekolah Lansia (ist).

Di sisi lain, tubuh yang menua memang sebuah keniscayaan. Meski begitu, pada tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata usia harapan hidup (UHH) penduduk di Indonesia meningkat dari yang semula 72,13 tahun (sekitar 72 tahun 1 bulan 17 hari) pada tahun 2023, menjadi 72,39 tahun. 

Angka ini menjadi bukti bahwa derajat kesehatan lansia di Indonesia sudah semakin baik. Namun, realitas lain tidak bisa diabaikan. Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, hingga stroke masih menghantui, seakan menjadi bayang-bayang yang mengikuti perjalanan usia lanjut. Kalau bicara soal kesehatan, banyak lansia yang diam-diam harus berjuang. 

Data Susenas Maret 2024 mencatat, sekitar dua dari lima lansia mengeluhkan kondisi kesehatan dalam sebulan terakhir. Keluhannya beragam, dari yang ringan seperti batuk, pilek, sakit kepala, hingga masalah serius akibat penyakit menahun, disabilitas, atau penyakit degeneratif lainnya. 

Angka ini menunjukkan bahwa sekitar seperlima lansia aktivitas hariannya benar-benar terganggu karena sakit. Menariknya, kondisi kesehatan lansia sering kali berkaitan dengan gaya hidup mereka. Contohnya, hampir seperempat lansia masih merokok dalam sebulan terakhir, dan sebagian besar melakukannya setiap hari. 

Kebiasaan kecil ini, kalau tidak dikelola, bisa menjadi pintu masuk masalah kesehatan yang lebih besar di masa tua. Selanjutnya aspek finansial sering kali jadi topik sensitif. 

BPS mencatat, pada 2024 lansia sudah mencapai 12 persen dari total penduduk Indonesia, dengan rasio ketergantungan sekitar 17,08. Artinya, seratus orang usia produktif harus menopang hampir delapan belas lansia. Kenyataannya, mayoritas lansia bergantung pada anak atau kerabat untuk bertahan hidup. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top