Program ini memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk belajar di luar program studi mereka. Namun, banyak perguruan tinggi yang belum siap dengan infrastruktur dan sistem pendukung untuk mendukung kebijakan ini, sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan mahasiswa dan dosen.
Di sisi lain, banyak perguruan tinggi, terutama di daerah terpencil, belum memiliki fasilitas yang memadai atau sistem administrasi yang terintegrasi untuk mendukung implementasi kebijakan ini. Akibatnya, terdapat kebingungan di kalangan mahasiswa dan dosen mengenai pelaksanaan dan pemanfaatan kebijakan MBKM, yang menghambat efektivitas dan manfaat program ini.
Faktanya beberapa contoh di atas, hanya menggambarkan sebagian kecil “keraguan” yang terjadi dalam pendidikan kita di Indonesia. Ketidakpastian kebijakan dalam pendidikan dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan, terutama bagi tenaga pendidik, siswa, dan proses peningkatan mutu pendidikan. Guru dan dosen sering kali harus beradaptasi dengan kebijakan baru dalam waktu singkat tanpa pelatihan yang memadai, yang menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian dalam pelaksanaan pengajaran.Siswa dan mahasiswa juga merasakan dampak dari perubahan kebijakan yang tidak menentu.
Ketidakpastian mengenai struktur kurikulum dan peluang akademik dapat menyebabkan kecemasan tentang masa depan pendidikan mereka, yang berdampak negatif pada motivasi dan kinerja akademik.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan mengakibatkan kurangnya konsistensi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Fokus yang sering berubah pada prioritas pengembangan pendidikan dapat mengurangi efektivitas upaya peningkatan kualitas. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan kebijakan drastis sering kali menurunkan kualitas pendidikan dalam jangka pendek, karena sumber daya dialihkan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan baru.










