Dari luar pondok I Satriawangsa menangis tersedu, sembari berucap, "Ibu, tolonglah saya, mohon tataplah anakmu ini. Saya Satriawangsa putra ibu, datang untuk memohon restu”.
Mendengar rintihan I Satriawangsa, Ni Berit Kuning keluar dari dalam pondok, diusap-usapnya muka I Satriawangsa. I Satriawangsa menyatakan maksudnya, "Ibu saya hendak melakukan sembah pada ibu, mohon izinkanlah!"
Ni Berit Kuning lalu menjawab, "Duhai putraku, jangan dikau menyembah ibu, ini tidak boleh kau lakukan. Bila kau lakukan itu kelak kau akan terkena sosot. Kau harus indahkan pesan Dalem, jangan melanggarnya”.
I Satriawangsa menolak nasihat ibunya. Ia lalu menyembah sang ibu dari balik pondok. Ni Berit Kuning berkelit ke sebelah pondok, tiba-tiba keajaiban terjadi, pondok itu terbelah menjadi dua. Itulah sebabnya ada 'bale pegat'.
Sementara Ni Brit Kuning jatuh ke dalam sumur. Atmanya terbang berupa burung Tuu-Tuu. Raganya tumbuh menjadi pohon timbul. Saat kejadian itu, I Satriawangsa kemudian menghaturkan bhisama, bahwa dia dan keturunannya tidak akan memakan buah timbul. Bila itu terjadi, ia dan keturunannya akan ditimpa penyakit persendian (buku-buku).
Setelah kejadian Bale Pegat itu, dan jatuhnya Ni Brit Kuning ke dalam Sumur, I Satriawangsa pulang menghadap Dalem, menuturkan kejadian sebenarnya. Bahwa ia telah melanggar bhisama Dalem, karena telah menyembah sang ibu.
Dalem terperangah, Satriawangsa lalu diturunkan derajatnya. Oleh karena ibunya ketika meninggal jatuh ke dalam sumur rohnya terbang berupa burung Tuu-Tuu, Satriawangsa lalu diganti namanya menjadi Ki Mantri Tutuan.










