Suarta juga meyakini taksu penampilan timnya tak lepas dari aura Taman Budaya Bali, serta buah dari ngarutang piuning di Pura Tutuan, Bukit Buluh, Gunaksa, Dawan, Klungkung, sebelum pentas. Persiapan sekala niskala dirasa perlu dilakukan.
"Saya yakin alm. Prof. Mantra membangun Taman Budaya lewat kajian panjang. Beliau meneliti dulu bagaimana aura tanah di lahan Taman Budaya sebelumnya," ungkapnya.
Cerita yang dipetik dari Babad Ki Mantri Tutuan itu, menurutnya, mengisahkan bakti seorang anak terhadap ibunya. Meski sang ibu berbuat kesalahan besar. Dikisahkan seorang pemuda bernama Satriawangsa ngotot ingin menemui ibu kandungnya yang sedang menjalani masa pengasingan di hutan.
Padahal ayahandanya melarang keras permintaan putranya tersebut. Karena terus merengek, hatinya pun luluh. Satriawangsa diizinkan menemui ibunya, dengan syarat dilarang menyembah. Sebuah bhisama yang tegas.
Saat bertemu ibunya di sebuah pondok di hutan, Satriawangsa melanggar bhisama ayahnya. Ia melakukan sembah sujud sebagai bakti anak kepada ibunya. Diketahui bhisama ayahnya dikarenakan sang ibu telah membunuh adik Satriawangsa untuk dijadikan sop.
Peristiwa itu terjadi di zaman Kali Sengara atau bumi terbalik. Peristiwa itulah yang menyebabkan ayahnya membuat bhisama melarang Satriawangsa bertemu ibunya.
Setelah melakukan sujud, seketika pondok sang ibu terbelah. Lalu diceburkanlah raganya di dalam sumur. Secara ajaib, tumbuh pohon ‘timbul’ dari dasar sumur dan di rantingnya hinggap ‘paksi tutu’. Cerita ini sekaligus mengungkap alasan kenapa ‘semeton’ Tutuan dilarang memakan ‘jukut timbul’ dan daging ‘paksi tutu’.










