Kemarahan Dalem Mangori pada Ni Brit Kuning tak bisa dibendung. Ia lalu dianiaya, diusir dibuang ke tengah Hutan Keling. Di tengah hutan Ni Brit Kuning dibuatkan tangsi, sejenis pondok. Di barat pondok terdapat sumur kering. Disitulah bertahun-tahun Ni Brit Kuning tinggal, sembari menanam ubi, talas, pulada, dan lain sebagainya.
Kini diceritakan putra Ni Brit Kuning yang bernama I Satriawangsa tumbuh dewasa. Suatu hari Satriwangsa menghadap Dalem Mangori, hendak menanyakan sang ibu. Sebab sudah begitu lama dia tidak melihat ibunya sendiri.
Dengan sikap takzim, Satriawangsa "matur" pada paduka Dalem Mangori: "Duli Paduka Dalem, ananda hendak bertanya pada paduka, di mana gerangan ibu ananda Ni Berit Kuning?"
"Ibumu tinggal di tengah Hutan Keling," kata Raja.
I Satriawangsa bertanya kembali pada ayahanda Dalem, "Ampun paduka , ananda mohon pada paduka, izinkan hamba bertemu ibu di tengah hutan”.
Mendengar kata-kata sang anak, Dalem Mangori kemudian bersabda, "Wahai Satriawangsa, Bapa ijinkan dikau, tapi ada permintaan Bapa, jangan engkau menyembah ibumu, sebab tidak boleh engkau melakukan itu. Bila engkau menyembah, apus sirna keutamaanmu".
"Duli paduka Dalem, saya junjung titah dan kehendak Dalem," Satriawangsa lalu mohon diri pada Dalem.
I Satriawangsa bersiap menuju Hutan Keling, abdi dan pangalasan diberangkatkan, membawa serta anjing dan jaring. Di tengah hutan, anjing-anjing buruan itu mulai menyakal-nyakal. Tak seberapa lama Ni Berit Kuning ditemukan.
Saking takutnya, wanita ini lalu berlari masuk ke dalam pondok, anjing-anjing itu memburunya. Begitu pula para abdi, ikut pengejar, akhirnya terkurunglah Ni Berit Kuning di pondoknya.










