Di Keraton Keling Ni Brit Kuning kian tumbuh dewasa. Kecantikannya memikat penghuni kraton. Ini membuat Dalem Mangori jatuh cinta pada Ni Brit Kuning. Ni Brit Kuning lalu dijamahnya. Tak berselang Ni Brit Kuning pun hamil. Setelah sembilan bulan melahirkan seorang putra diberi nama I Mantri. I Mantri kemudian "diperas" Mpu Hati (ibu tirinya) diberi nama I Satriawangsa.
Tak lama kemudian Ni Brit Kuning melahirkan anak kedua. Saat itu baru berusia tujuh bulan. Sementara Dalem Mangori masih suka keluar masuk menuju hutan, menghibur diri dengan berburu.
Kini munculah masa Kali, di tengah hutan terjadi perang antara dua Rsi yang masih dalam hubungan keluarga (kula gotra), antara Rsi Suntiwana dengan Rsi Saba. Kedua-duanya meninggal saling tusuk dengan dua tombak sakti bernama I Sadug dan I Sadeg. Konon tombak ini adalah siyung (taring) Sanghyang Kala.
Kemudian, dalam perjalanan pulang dari berburu Dalem Mangori menemukan dua Rsi ini tergeletak di tanah. Dua-duanya masih bersimbah darah. Dua-duanya telah meninggal. Dua tombak itu kemudian diambil Dalem Mangori untuk dibawa, disimpan di Keraton Keling.
Sesampainya di Kraton, dua tombak ini disimpan di merajan. Tanpa istirahat Dalem Mangori langsung menemui Ni Brit Kuning, menanyakan putra keduanya.
Sayang entah karena apa, bayi yang baru berusia tujuh bulan ini dibunuh ibunya sendiri. Saat ditanya Dalem, Ni Brit Kuning langsung menyatakan, bahwa putra Dalem telah ditempatkan di atas dulang, dagingnya telah dicincang sebagai hidangan.
Dalem terperangah mendengar pengakuan di Brit Kuning. Betapa kasihan Dalem Mangori pada putranya. Tanpa dosa dibunuh ibu sendiri. Dalem pun menjadi teramat sedih, mendoakan putranya kelak menjadi dewa utama.










