Kendalikan DBD di Kediri, Tabanan, Poltekkes Kemenkes Denpasar Perkuat Kapasitas Jumantik

IMG-20260913-WA0024
Ketua Tim Pengabmas dari Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Denpasar Dr. Drs. I Wayan Sudiadnyana, SKM., MPH., memaparkan materi tentang penguatan peran Kader Jumantik untuk mengendalikan kasus DBD di Desa/Kecamatan Kediri, Tabanan. foto:fb/ist

*Data sampai dengan akhir Maret 2025, secara global dan nasional kasus DBD terus mengalami peningkatan. Bali sebagai daerah destinasi wisata, tidak terlepas dari masalah penyakit DBD.  

TABANAN-fajarbali.com | Demam Berdarah Dengue atau DBD adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD masih menjadi momok masalah kesehatan level global hingga lokal, di Bali

Data sampai dengan akhir Maret 2025, secara global dan nasional kasus DBD terus mengalami peningkatan. Bali sebagai daerah destinasi wisata, tidak terlepas dari masalah penyakit DBD.  

Dari 9 daerah kabupaten kota, semuanya merupakan daerah endemis DBD. Data kasus dan angka kesakitan DBD di Provinsi Bali berfluktuasi dan selalu berada pada peringkat ke tiga besar dari 34 provinsi di Indonesia.   

Berdasarkan tersebut, Tim Pengabdi dari Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Denpasar, memperkuat peran Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di Desa/Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas). Pengabmas dirancang berdasarkan perkembangan IPTEK kekinian di bidang kesehatan.

Tim diketuai Dr. Drs. I Wayan Sudiadnyana, SKM., MPH., bersama dua anggota Anysiah Elly Yulianti, SKM., M.Kes., dan Ni Ketut Rusminingsih, SKM., M.Si. Sudiadnyana mengungkapkan, selama tahun 2024 tercatat jumlah kasus DBD sebanyak 335 kasus, berdasarkan laporan UPTD Puskesmas Kediri I yang mewilayahi 5 desa di Kecamatan Kediri.

Kasus DBD terbanyak di Desa Banjar Anyar sebanyak 94 kasus (28.6 %) dan terbanyak disusul Desa Kediri 77 kasus (23,0 %).  

"Dari data jumlah kasus penderita DBD di Desa Banjar Anyar lebih banyak dibandingkan dengan Desa Kediri, namun bila dianalisis dengan memperhatikan jumlah penduduk per desa, nampak jumlah penduduk Desa Banjar Anyar sebanyak 15.471, jiwa lebih banyak dibandingkan dengan Desa Kediri sebanyak 10.346 jiwa," ungkap Sudiadnyana. 

BACA JUGA:  Wapres Ingatkan Target Stunting Harus Turun 3,8 Persen Pertahun

Ia melanjutkan, hasil perhitungan insidensi rate DBD di Desa Banjar Anyar sebanyak 6,08 per 1000 penduduk sedangkan Desa Kediri sebanyak 7,44 per 1000 penduduk. Dengan demikian terlihat permasalahan DBD dari segi risiko penduduk terkena DBD, di Desa Kediri lebih besar dibandingkan dengan Desa Banjar Anyar.  

"Dengan demikian permasalahan penyakit DBD di Desa Kediri perlu segera mendapat perhatian dari berbagai pihak untuk dicarikan solusinya. Lebih-lebih berdasarkan catatan Pemegang Program DBD Pukesmas Kediri 1, Angka bebas jantik (ABJ) rata-rata di Desa Kediri hanya mencapai 90,4 %. Nilai ABJ pada suatu wilayah dinyatakan aman dari resiko penularan penyakit DBD bila mencapai ≥ 95%," ungkap dia.   

Untuk mengatasi permasalahan DBD di wilayah Desa Kediri sebenarnya pihak Puskesmas Kediri 1 telah membentuk Kader Jumantik yang diambil dan berasal dari Kelian Dinas atau kepala kewilayahan setempat pada masing-masing banjar dinas.   

Kader jumantik di Desa Kediri berjumlah adalah 7 orang. Jumlah ini sesuai dengan jumlah banjar dinas yang ada di Desa Kediri yaitu : Banjar Jagasatru, Banjar Semo, Banjar Puseh, Banjar Pande, Banjar Delod Puri, Banjar Panti dan Banjar Demung.  

Kegiatan Jumantik sementara ini belum berjalan optimal, disamping karena kesibukan jabatan rangkap dan aktifitas sebagai Kelian Dinas, juga karena kekurangpemahaman jumantik terhadap tugas dan fungsinya.  

Keberadaan Kader Jumantik di Desa Kediri terkesan formalitas saja dan belum pernah mendapat pelatihan dari petugas kesehatan.

Sampai saat ini kader jumantik yang ada sudah melakukan pemantauan jentik di wilayah banjarnya setiap bulan namun belum dapat mennggerakkan partisipasi warganya untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN, sehingga peran masyarakat dalam pencegahan DBD belum optimal. 

BACA JUGA:  Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 yang Dihentikan Kemenkes Bukan Vaksin AstraZeneca untuk Bali

Informasi dari petugas pemegang program DBD, akibat keterbatasan dana pihak Puskesmas Kediri 1, sampai saat ini belum pernah melakukan pelatihan petugas jumantik di Desa Kediri.  

Sudiadnyana menjelaskan, Pengabmas bertema "Pendampingan dan Pemberdayaan Jumantik sebagai Penggerak Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit DBD di Desa Kediri" itu, bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Kader Jumantik Desa Kediri akan tugas dan fungsinya sebagai jumantik. 

Kegiatan ini diawali dengan edukasi tentang penyakit DBD dan cara mencegahnya, peran dan tugas jumantik, peningkatan keterampilan memantau jentik melalui upaya pemberdayaan dan pendampingan.   

Pengabmas berlangsung dari Maret hingga Oktober 2026. Setelah mendapatkan pendampingan dan peningkatan wawasan, Kader Jumantik diharapkan mampu mengambil peran sebagai garda terdepan dalam pencegahan DBD. Terlebih sebagai destinasi pariwisata dunia, kesehatan masyarakat di Bali pada umumnya berdampak pada citra pariwisata. [gde/rel]

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top