*COI ITEKES Bali terdiri dari asas keterbukaan, asas demokratis, asas humanis, asas legalitas, asas kesetaraan dan non-diskriminasi, asas inklusivitas dan aksesibilitas, asas perlindungan dan keamanan dan asas edukatif dan dipastikan tidak ada perploncoan.
DENPASAR-fajarbali.com | Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali, berhasil menjaring sebanyak 603 mahasiswa baru (maba) tahun akademik 2026/2027. Seluruh maba berkumpul mengikuti Campus Orientation and Inauguration (COI), di Kampus ITEKES Jl. Tukad Balian 180 Denpasar, Selasa (1/9/2026).
Rektor ITEKES Bali I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp., M.Ng., Ph.D., menjelaskan, COI merupakan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ala ITEKES Bali. Panduannya pun berdasarkan regulasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sain dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Putu Darma mengatakan, COI tahun ini mengusung “Creative, Optimistic, and Innovative”. Kreatif berarti memiliki daya cipta, mampu berfikir out of the box dalam menyelesaikan suatu tugas yang diberikan atau menangani permasalahan yang dihadapi. Inovatif berarti kemampuan seseorang dalam mendayagunakan kemampuan dan keahlian untuk menghasilkan karya baru.
"Di antara Kreatif dan Inovatif tersebut, ada sebuah keyakinan yang harus dimiliki yaitu Optimisme yang berarti selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal. Ketiga karakter tersebut harus dipupuk dengan baik untuk bisa bertahan dan bersaing," jelas Putu Darma, sembari menyebut pesera COI terdiri dari Program Sarjana, Sarjana Terapan dan Magister.
COI ITEKES Bali, kata dia, terdiri dari asas keterbukaan, asas demokratis, asas humanis, asas legalitas, asas kesetaraan dan non-diskriminasi, asas inklusivitas dan aksesibilitas, asas perlindungan dan keamanan dan asas edukatif dan dipastikan tidak ada perploncoan.
Kegiatan yang dilakukan, meliputi pembinaan kehidupan berbangsa, bernegara, jati diri bangsa dan pembinaan kesadaran bela negara, pengenalan sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia, penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan etika teknologi informasi di lingkungan Perguruan Tinggi pada era digital, pengembangan karakter, dan materi lain sesuai kebutuhan mahasiswa di ITEKES Bali, dan dipastikan tidak ada perploncoan. Narasumber pun berasal dari internal dan eksternal kampus.
Rektor menambahkan, peningkatan mahasiswa baru tahun ini juga diiringi degan persebaran asal mahasiswa. "Mahasiswa baru dari puluhan provinsi bergabung bersama kami. Tentu ini membuktikan kami semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat luas," jelasnya.
Sebagai dukungan terhadap program pemerintah daerah, ITEKES Bali telah menerima mahasiswa dari beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) sejumlah lima orang program studi Kebidanan dan Teknologi Informasi.
"Kalau bicara peminatan, keperawatan termasuk anestesi dan kebidanan masih menjadi favorit. Tapi ada beberapa prodi yang sebenarnya prospektif tapi perlu disosialisasikan lagi, misalnya akupuntur. Ini berbasis Traditional Chinese Medicine yang sudah diakui dunia. Sangat lebar peluang lulusannya," ungkapnya.
Lebih lanjut disinggung soal tingginya sarjana yang masih nganggur, selaku praktisi pendidikan ia menegaskan perguruan tinggi tidak menjadi faktor tunggal atas keberhasilan seseorang [mahasiswa].
"Bahwa kami di perguruan tinggi membantu menuju arah itu [keberhasilan], iya. Sekarang kembali lagi soal program studi yang dipilih, jaringan, serta kerja sama kampus dengan pengguna lulusan. Kalau di ITEKES kami bersyukur hampir tidak ada lulusan yang menganggur," kata rektor.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) VIII Dr. Ir. IGL Bagus Eratodi, ST., MT., IPU., ASEAN. Eng., di sela membuka COI, mengungkapkan kebanggaannya terhadap ITEKES Bali. Bahkan Eratodi menyebut ITEKES Bali sebagai salah satu perguruan tinggi andalan di Bali-NTB.
Perolehan mahasiswa dari tahun ke tahun, menurutnya, merupakan bukti nyata yang tak perlu diperdebatkan lagi soal kualitas ITEKES Bali. Ia tahu persis bagaimana pengelolaan kampus di bawah Yayasan PPLPK Bali dokelola secara profesional berawal dari Akademi, Sekolah Tinggi hingga bertransformasi menjadi Insitut yang unggul.
"Selain karena program-program studi kesehatan memang paling diminati, profesionalisme pengelola ITEKES Bali juga luar biasa. Sangat adaptif membaca perkembangan sehingga ITEKES terus berkembang," ungkapnya.
Namun Eratodi tetap berpesan kepada rektor dan jajaran, untuk menjadikan mahasiswa baru ini, menjadi sumber daya manusia unggul di bidang kesehatan dan teknologi, kelak. "Hari ini adik-adik beradaptasi dulu dari siswa menjadi mahasiswa. Selanjutnya ikutilah perkuliahan dan aturan di kampus ini," ungkap Eratodi.
Kepada pengelola perguruan tinggi swasta di wilayah kerjanya, ia tidak henti-hentinya mengimbau agar selalu adaptif dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan pasar. Apalagi di zaman kecerdasan buatan atau AI, jika kampus tidak beradaptasi, jangan kaget bila peminat terus menurun.
"Adaptasi itu tidak serta-merta melakukan perombakan total. Misalnya dosen diganti semua. Enggak begitu. Diberdayakan yang sudah ada dengan bimtek. Intinya pelan-pelan, masukkan unsur AI ke dalam prodi. Itu cenderung diminati anak-anak muda," jelasnya.
Seorang mahasiswa baru Prodi Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi, Aditya Pratama, mengaku sengaja jauh-jauh datang dari Sukabumi, Jawa Barat demi bisa merasakan pendidikan di kampus kesehatan unggul, ITEKES Bali.
Selama berkuliah sekitar empat tahun ke depan, Aditya, memanfaatkan fasilitas asrama kampus sebagai tempat tinggal. Ini semakin membantu sekaligus membuatnya lebih fokus kuliah. "Awalnya saya searching di internet dan akhirnya memilih kuliah di ITEKES Bali. Saya yakin dengan pilihan ini," jelas Aditya.










