Padat Karya, Program Kontribusi Sosial Mahasiswa Inbound PMM ITEKES Bali di Desa Melinggih

Sebanyak 78 mahasiswa inbound Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PPM) yang berasal dari 34 perguruan tinggi se-Indonesia di Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali, mengikuti Modul Nusantara berupa Kontribusi Sosial di Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Sabtu (15/6/2024).

(Last Updated On: )
Cek kesehatan gratis bagi ratusan lansia Desa Melinggih, Payangan, Gianyar.

GIANYAR-fajarbali.com | Sebanyak 78 mahasiswa inbound Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PPM) yang berasal dari 34 perguruan tinggi se-Indonesia di Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali, mengikuti Modul Nusantara berupa Kontribusi Sosial di Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Sabtu (15/6/2024).

“Kontribusi Sosial” merupakan rangkaian terakhir PMM tahun ini, setelah kurang lebih empat bulan mahasiswa dari luar Bali itu mengikuti kegiatan akademik di kampus. PMM merupakan program yang dimotori Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

Dosen Modul Nusantara yang juga dosen Keperawatan ITEKES Bali Ns. I Nyoman Arya Maha Putra, S.Kep.,M.Kep., ditemui di Desa Melinggih, menjelaskan, Kontribusi Sosial diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari edukasi dan pelayanan kesehatan gratis bagi para lansia, hingga sosialisasi pengolahan sampah dan limbah menyasar pelajar SD hingga setingkat SMA.

“Dalam kontribusi sosial ini, memberikan pengalaman nyata mahasiswa terkait permasalahan yang ada di masyarakat termasuk mencari solusinya. Mereka juga bisa menambah wawasan tentang budaya di daerah luar,” kata Arya Maha Putra.

Dengan bekal wawasan tersebut, menurut Arya Maha Putra, mahasiswa memiliki bekal jika setelah lulus kuliah nanti berkarir di luar daerah asalnya. Meski berlangsung sementara, namun PPM ini, berkesan selamannya di benak mahasiswa, seperti “tageline” PMM.

Mahasiswa PMM didampingi dosen-dosen Modul Nusantara ITEKES Bali.

Lebih lanjut, Arya Maha Putra menjelaskan, hasil cek kesehatan para lansia di Desa Melinggih, risiko penyakit hipertensi paling dominan ditemui. Hal ini sangat berguna sebagai data untuk perbekel untuk selanjutnya ditangani bersama puskesmas setempat dan instansi terkait.

Selain pelayanan kesehatan gratis, Kontribusi Sosial dirangkai penyuluhan pembuatan kompos dan pembagian bibit tanaman obat. Materi ini diambil karena sampah menjadi momok bagi Bali.

“Sampah tidak hanya masalah di kota-kota besar tapi di pedesaan juga. Oleh karena itu, kami mengajak untuk mengatasi sampah dari sumbernya. Sesuai juga dengan peraturan pak Gubernur,” kata dia.

Semua pihak dilibatkan dalam kegiatan tersebut, seperti Jurusan Keperawatan, Teknologi Pangan, BEM ITEKES, Puskesmas Payangan I, para tokoh masyarakat hingga perangkat bajar/desa setempat.

Lebih lanjut, memasuki transisi pemerintahan nasional, Arya Maha Putra, berharap Program PMM dapat dilanjutkan, terlepas dari siapa pun yang menjabat Menteri Pendidikan, karena dinilai memberikan dampak positif bagi mahasiswa, dosen dan institusi pendidikan tinggi.

“Seandainya pun menteri (pendidikan-red) ke depan menghapus program PMM, kami di tingkat institusi ingin melanjutkan secara madiri. Tentunya setelah pimpinan melakukan kajian terkait segala kesiapan,” pungkas Arya Maha Putra.

Perbekel Desa Melinggih I Made Diptayana, mengapresiasi ITEKES Bali yang memilih wilyahnya sebagai lokus pengabdian. Kerja sama antara Desa Melinggih dan ITEKES menurut perbekel telah terjalin sangat erat, didasari adanya MoU sebagai desa binaan.

Diptayana menuturkan, di Melinggih terdapat lebih dari 1.100 orang lansia. Kategori level I sejumlah 82 persen, level II 10 persen dan sisnya level III sebanyak 8 persen.

Lansia aktif (level I) ini lah, menurut Diptayana perlu mendapatkan edukasi berkesinambungan agar mereka bisa merawat kesehatannya. Sehingga apa yang dilakukan ITEKES Bali dengan menggerakkan mahasiswa PMM sangat bermanfaat bagi desanya.

Edukasi mengolah sampah organik menjadi kompos.

Pun demikian soal sampah. Ia tak menampik sampah menjadi masalah serius yang dihadapi semua wilayah di tanah air, tak terkecuali desa Melinggih. Persoalan sampah, masih menurut perbekel, memerlukan upaya bersama untuk mengatasinya. Hal yang paling efektif adalah menanamkan kebiasaan positif sejak dini, dalam hal ini menyasar siswa SD, SMP dan SMA.

“Kami berharap kerja sama dengan ITEKES Bali tidak berhenti sampai di sini,” harap Diptayana.

Kelly Septianiga Lumbansiantar, salah satu mahasiswi peserta PMM dari Jurusan Keperawatan, Institut Kesehatan Deli Husada, Deli Tua, Kota Medan, mengaku sangat terkesan selama mengikuti pertukaran mahasiswa di ITEKES Bali.

PMM, kata Kelly, tak melulu mencakup urusan akademis, tetapi pengalaman hidup, seni, budaya hingga cita rasa kuliner. Ayam betutu pedas, menjadi santapan favoritnya selama berada di Pulau Dewata.

Ia juga merasakan dengan terpilih sebagai mahasiswa PMM, ia dapat mengenal Indonesia lebih luas lagi. “Saya merekomendasikan ITEKES Bali kepada mahasiswa yang mengikuti PMM selanjutnya. Terima kasih atas segala pengalaman yang telah diberikan kepada saya dan teman-teman lain,” pungkas Kelly.

 

Next Post

Bersama Menjaga Kearifan Lokal Indonesia

Ming Jun 16 , 2024
Salah satu upaya yang dilakukan dalam pemajuan kebudayaan adalah dengan diterbitkannya berbagai peraturan perundang-undangan, salah satunya adalah Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan budaya.
RAI RAI RAI

Berita Lainnya