Di luar faktor ketahanan energi, tekanan pasar turut mendorong tren ini. Hotel-hotel di Indonesia kini menghadapi tuntutan dari berbagai arah, mulai dari komitmen perusahaan induk global, investor, regulator, hingga wisatawan.
Dari sudut pandang wisatawan, riset Sustainable Travel 2025 dari Booking.com, menunjukkan 93 persen responden kini secara aktif mempertimbangkan opsi perjalanan yang lebih berkelanjutan saat membuat keputusan bepergian. Survei tersebut melibatkan 32.000 wisatawan dari 34 negara, termasuk Indonesia.
Semua dinamika ini menunjukkan sinyalemen adopsi energi terbarukan di sektor pariwisata Bali didorong oleh kebutuhan manajemen risiko sekaligus tekanan pasar. Seiring ketidakpastian akibat geopolitik dan meningkatnya ekspektasi terhadap keberlanjutan, prioritas akan energi telah berubah, dari sekadar isu operasional menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing bisnis.
Namun demikian, transisi energi di sektor pariwisata Bali takkan cukup jika hanya bertumpu pada beberapa proyek tunggal saja. Untuk mewujudkan ketahanan energi yang konkret, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara pelaku industri, investor, dan pembuat kebijakan.










