Prof. Sinarta melanjutkan, salah satu dari 15 program strategis yang memiliki keterkaitan kuat dengan pengembangan kawasan berkelanjutan adalah Pemetaan Desa Adat Sibetan, untuk Mendukung Pengelolaan Kawasan yang Berkelanjutan.
Program ini dirancang untuk memperkuat tata kelola ruang wilayah adat, menginventarisasi aset komunal, sekaligus memberikan dasar informasi spasial dalam menjaga keberlanjutan kawasan agroforestri salak Desa Sibetan.
"Kegiatan tersebut menjadi semakin penting setelah sistem agroforestri salak Karangasem memperoleh pengakuan sebagai Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS)," ungkap Prof. Sinarta.
Menurut dia, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan salak tidak semata-mata memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merupakan bentang lanskap pertanian tradisional dengan nilai ekologis, budaya, serta pengetahuan lokal yang penting untuk dilindungi.
Di tengah perkembangan pembangunan dan meningkatnya tekanan terhadap pemanfaatan ruang, Desa Adat Sibetan juga menghadapi tantangan terkait kepastian batas wilayah adat, Pelaba Pura, Tanah Ayahan Desa, hingga batas perkebunan masyarakat.
Sebagian informasi tersebut sebelumnya masih bergantung pada pengetahuan turun-temurun maupun dokumen manual, sehingga dibutuhkan basis data spasial yang lebih terukur.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Tim PkM Unwar menggabungkan pendekatan partisipatif masyarakat dengan teknologi geospasial modern. Prajuru adat dan masyarakat terlibat dalam menunjukkan batas-batas sosial dan informasi kawasan, kemudian data tersebut diperkuat menggunakan pemotretan udara berpresisi tinggi.










