Melalui sistem pengelolaan berbasis Desa Adat berlandaskan Tri Hita Karana, ia membuktikan bahwa 80% sampah sebenarnya bisa selesai di tingkat desa.
60–70% sampah rumah tangga adalah organik yang bisa dikompos di halaman.
Sisanya adalah residu dan sampah adat (seperti sarana upacara kematian/banten) yang penanganannya sudah diatur secara komunal lewat power perangkat desa.
Krisis Master Plan: Apakah Bali Overload?
Akademisi Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., mengajak audiens melihat data makro secara objektif. Berdasarkan daya dukungnya, lingkungan Bali idealnya hanya menampung 1,5 juta jiwa. Kini, Bali harus menanggung beban 4,5 juta penduduk tetap, ditambah 10 juta wisatawan domestik dan 3-4 juta wisatawan mancanegara per tahun.
Muliarta mempertanyakan kejelasan Master Plan penanganan limbah industri pariwisata (hotel/restoran) yang kerap bercampur dengan sampah domestik di TPA hingga menyebabkannya overload.
Ia juga meluruskan miskonsepsi di media: "Masyarakat mengira TPA-nya yang ditutup total. Padahal, yang ditutup adalah metodenya (open dumping). Infrastrukturnya masih ada, dan ini momentum untuk mengganti dengan teknologi yang lebih adaptif. Jangan sampai kita menyuruh masyarakat memilah, tapi mereka bingung mau membuang ke mana karena hubungannya terputus."
Strategi Badung: Membaca Karakteristik Utara vs Selatan
Menanggapi dinamika FGD, Kadis LHK Kabupaten Badung Made Rai Warastuthi memberikan apresiasi tinggi dan memaparkan kondisi riil di kawasannya. Badung menghadapi tantangan unik karena dualisme karakteristik wilayah:










