Empat Profesor di Bali Refleksikan Hardiknas 2026

IMG-20260502-WA0001
(kiri-kanan): Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA., Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum., Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR.

Jika kampus "sustainable" fokus pada meminimalkan dampak negatif (seperti mengurangi plastik atau emisi), kampus "regeneratif" bertujuan untuk secara aktif memulihkan, memperbarui, dan meningkatkan kesehatan sistem sosial serta ekologi di sekitarnya.

Berikut adalah penjabaran konsepnya: dari 'Sustainable' ke 'Regenerative'

Perbedaan mendasarnya terletak pada paradigma berpikir. Keberlanjutan (Sustainability):

Berusaha menjaga status quo agar lingkungan tidak semakin rusak. Slogan utamanya: "Do no harm" (Jangan merusak).

Regeneratif: Berusaha memperbaiki apa yang sudah rusak dan menciptakan nilai tambah bagi kehidupan. Slogan utamanya: "Place as a living system" (Tempat sebagai sistem yang hidup).

Pilar Utama Perguruan Tinggi Regeneratif

Kampus sebagai Laboratorium Hidup atau Living Lab, Gedung dan fasilitas bukan sekadar benda mati. Kampus regeneratif didesain agar: Menghasilkan energi lebih banyak daripada yang dikonsumsi (Net Positive), Mengelola limbah secara sirkular (sampah menjadi nutrisi atau bahan baku kembali), Menjadi koridor bagi keanekaragaman hayati lokal.

Kurikulum yang Terhubung dengan Realitas.

Pendidikan tidak lagi tersekat dalam sekat-sekat teori (siloisasi). Mahasiswa diajak untuk:

Pola Pikir Sistem (Systems Thinking): Memahami keterkaitan antara ekonomi, budaya, dan alam.

Transdisipliner: Memecahkan masalah nyata di komunitas sekitar sebagai bagian dari nilai kredit semester.

Kecerdasan Ekologis: Menumbuhkan empati terhadap semua bentuk kehidupan, bukan hanya manusia.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top