Pendidikan tidak lagi sekadar membebaskan individu, tetapi juga membangun identitas nasional dan memperkuat kohesi sosial. Namun, pendekatan yang cenderung sentralistik kerap menyisakan tantangan dalam kualitas dan relevansi pendidikan.
Memasuki era Reformasi, pendidikan Indonesia dihadapkan pada realitas globalisasi. Kesetaraan tidak lagi hanya dimaknai dalam konteks nasional, tetapi juga dalam persaingan antarbangsa. Ironisnya, peningkatan jumlah lulusan tidak selalu diiringi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai, menciptakan fenomena oversupply tenaga terdidik. Di sinilah urgensi transformasi pendidikan menjadi nyata.
Hari ini, misi pendidikan tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi harus mampu membentuk global talent individu yang adaptif, inovatif, dan kompetitif di tingkat internasional.
Penguatan kompetensi abad ke-21, literasi digital, serta keterkaitan erat antara dunia pendidikan dan industri menjadi kunci. Pendidikan harus bergerak dari sekadar pemerataan akses menuju pemerataan kualitas dan relevansi.
Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi refleksi bahwa perjalanan pendidikan Indonesia adalah perjalanan menuju kesetaraan yang terus berevolusi dari kesetaraan sosial, nasional, hingga global. Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi bagaimana memastikan setiap insan terdidik mampu berkontribusi dan bersaing di panggung dunia.
2. Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum
Perguruan Tinggi Regeneratif
PERGURUAN Tinggi Regeneratif atau Regenerative Higher Education adalah lompatan besar dari sekadar kampus yang "hijau" atau "berkelanjutan".










