“Fokus utama level dua ini adalah pemrograman latihan. Pelatih harus paham kapan memberikan latihan, bagaimana dosisnya, serta bagaimana mengatur recovery atlet,” jelasnya.
Ia menyoroti salah satu faktor yang kerap memengaruhi penurunan performa atlet, yakni kesalahan dalam fase tapering. Menurutnya, banyak pelatih justru memberikan porsi latihan berat saat mendekati kompetisi, sehingga kondisi atlet kurang optimal saat bertanding.
“Akibatnya atlet memang bisa masuk final. Saat puncak pertandingan performanya menurun karena recovery tidak maksimal. Ini yang harus dibenahi,” tegasnya.
Selain itu, pelatih juga dituntut mampu melakukan evaluasi mandiri melalui tes fisik secara berkala, tidak hanya bergantung pada pengujian dari KONI. Hal ini penting untuk menyesuaikan dosis latihan dengan perkembangan kondisi atlet.
Melalui pelatihan ini, KONI Buleleng optimistis kualitas pelatih akan semakin meningkat dan berdampak langsung pada prestasi atlet. Bahkan, program ini juga menjadi bagian dari target jangka panjang untuk mendorong pelatih Buleleng naik ke level internasional dalam dua tahun ke depan.
“Kami ingin tidak hanya sukses sebagai tuan rumah, tetapi juga sukses prestasi. Harapannya, raihan medali emas Buleleng bisa meningkat signifikan di Porprov 2027,” pungkas Iwan. @gus










