"Saya tulis nama saya Profesor Doktor I Nyoman Suarna. Akhirnya tercapai juga doktor hari ini. Tentu berkat Hyang Widhi, doa orang tua, istri, anak dan semua pihak yang men-support saya," jelas Suarna, usai sidang terbuka.
Sehingga ia merasa capaiannya hari ini bukan miliknya. Melainkan milik orang-orang terkasih yang mendukungnya. Suarna sendiri merasa masih dalam buaian mimpi setelah perjuangannya meraih gelar doktor hampir kandas.
Jika ditarik kebelakang lagi, sebelum berhasil menembus profesi dosen, Suarna pernah bekerja di sebuah hotel di senggigi, Tenaga Pendaping Pertanian di Kabupaten Sumbawa , mengajar di SMA Saraswati Mataram, SMA Lingsar, SD 17 Mataram, juga SMK 2 Kuripan tahun 2002-2003.
"Waktu kecil dulu, almarhum ibu saya selalu menunjuk orang-orang yang berseragam sekolah. Beliau bilang 'harus masuk'. Dulu kan ada stigma kalau sekolah 'kelas tulange'. Artinya sampai remuk tulang orangtua membiayai pendidikan. Tapi nyatanya enggak begitu," kenangnya.
Namun ia mengakui perjuangannya tidak mudah. Ia mesti menempuh perjalanan air dan darat. Dari kampung naik jukung, lanjut mencegat truck menuju SMP di Gerung. Bahkan kalau nasib lagi tidak mujur, Suarna harus rela berbagi dengan muatan penuh pindang. Jadilah sekujur tubuhnya ikut berbau amis.
Terkait penelitian disertasinya, Suarna menjelaskan, bahwa perkawinan antarwangsa pada masyarakat Hindu di Lombok merupakan fenomena sosial budaya, agama, dan hukum yang mempertemukan sistem kewangsaan dengan dinamika perlindungan hak perempuan 'nyerod'.










