DENPASAR-fajarbali.com | Tim peneliti Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai (FST UNR) menuntaskan penelitian berjudul “Model Prediksi Banjir Perkotaan Berbasis Feed Forward Backpropagation Artificial Neural Network untuk Meningkatkan Resiliensi Kota Denpasar”.
Penelitian yang didanai Hibah Penelitian Fundamental Reguler (PFR) Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek 2026 ini memadukan data hidrometeorologi dua puluh tahun, survei lapangan subak, analisis citra satelit, dan jaringan syaraf tiruan untuk memahami mengapa banjir di Tukad Badung, sungai utama Kota Denpasar, sulit diprediksi.
Banjir 10 September 2025 yang Menjadi Titik Balik
Peristiwa banjir ekstrem pada 10 September 2025, ketika curah hujan 250–385 mm per hari melanda Denpasar dan menewaskan sedikitnya 18 orang, menjadi pemicu penelitian ini.
Pascakejadian, otoritas kehutanan menilai tingkat keparahan banjir bandang tidak semata ditentukan intensitas hujan, tetapi juga oleh alih fungsi lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Badung dan Tukad Mati yang kian menyisakan sedikit ruang resapan alami.
Dr. Ir. Putu Doddy Heka Ardana, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., Ketua Tim Peneliti sekaligus Dekan FST UNR, menjelaskan bahwa banjir perkotaan lahir dari banyak faktor yang saling terkait.
“Hujan, suhu, kelembapan, tekanan udara, angin, penguapan, dan debit sungai saling memengaruhi, sementara permukaan lahan di sekitarnya terus berubah. Kami ingin menguji apakah jaringan syaraf tiruan mampu membaca hubungan yang rumit itu dan apa saja yang dibutuhkan agar prediksinya dapat diandalkan,” ungkap Doddy, Senin (2/11/2026).










