Teliti Fenomena Transformasi Ngaben Tradisional ke Krematorium Krama Desa Pujungan, Dosen STAH Bhatara Guru, Kendari Raih Doktor di UNHI

IMG-20260820-WA0020
Dr. Ni Ketut Suterji, SE., M.Fil.H., mendapatkan ucapan selamat dari Pimpinan Sidang/Rektor UNHI Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si., didampingi Promotor Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si. [foto: IGA. Adnyana]

*Tradisi tidak bersifat statis, tetapi bersifat lentur dan adaftif terhadap modernisasi.

*Transformasi upacara ngaben di Desa Adat Pujungan dari bentuk tradisional menuju Ngaben krematorium merupakan fenomena empiris yang berlangsung secara bertahap dan diterima secara kolektif oleh masyarakat. 

 

DENPASAR-fajarbali.com | Ni Ketut Suterji, SE., M.Fil.H., berhak menyandang gelar Doktor (Dr) di depan namanya setelah menuntaskan Ujian Terbuka/Promosi Doktor, Program Doktor, Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Kamis (20/8/2026).

Dr. Ni Ketut Suterji, SE., M.Fil.H., merupakan doktor ke 215 yang dilahirkan UNHI. Dalam penelitian disertasinya, Suterji mengupas tuntas tentang "Transformasi Ngaben Tradisional ke Krematorium Krama Desa Adat Pujungan, Pupuan, Tabanan". 

Perempuan yang juga dosen di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Bhatara Guru, Kendari, Sulawesi Tenggara ini berpandangan, secara normatif, upacara ngaben sebagai bagian dari tradisi luhur Bali idealnya dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai dam tata cara yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk praktik medem sawa tanpa pembakaran. 

Namun, secara empiris, telah terjadi transformasi dalam pelaksanaan upacara ngaben di Desa Adat Pujungan, dari sistem tradisional menuju sistem krematorium yang pelaksanaannya berada di luar wewidangan Desa Adat Pujungan. 

"Perubahan ini tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga berdampak pada durasi upacara, keterlibatan krama adat, unsur seni budaya, serta pola interaksi sosial masyarakat," ujar Suterji. 

Dari hasil penelitiannya, transformasi ngaben tradisional ke krematorium Krama Punjungan dilandasi faktor ekonomi, modernisasi, ideologi, sosiologi, budaya, dan faktor psikologis. 

Pada tataran praktis, proses ngaben berdasarkan awig-awig, proses negosiasi dalam musyawarah adat, dan proses legitimasi penerimaan krama nuwed. Implikasi terjadinya transformasi upacara ngaben, yaitu: implikasi sosial, implikasi budaya, implikasi seni budaya, implikasi psikologis, dan implikasi ekonomi. 

BACA JUGA:  Sarankan Kontrol Parkir Saat UTBK di Undiksha

Suterji membeberkan tiga penemuan penting di lapangan. Pertama, transformasi upacara ngaben di Desa Adat Pujungan dari bentuk tradisional menuju Ngaben krematorium merupakan fenomena empiris yang berlangsung secara bertahap dan diterima secara kolektif oleh masyarakat. 

Proses ini, menurutnya, diawali dari praktik individual (mekingsan di geni) yang kemudian berkembang menjadi praktik komunal dan memperoleh legitimasi adat. 

"Keputusan masyarakat dalam memilih Ngaben krematorium tidak semata-matadi dasarkan pada pertimbangan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis, seperti rasa aman, pengurangan kecemasan, dan kebutuhan akan kepastian dalam pelaksanaan ritual," imbuh dia.  

Selain itu, terdapat pengalaman empiris masyarakat terhadap risiko dan kompleksitas ngaben tradisional yang turut mendorong peralihan ke krematorium. 

Kedua, pada tataran sosial-budaya, ditemukan adanya solidaritas dari partisipasi kolektif (ngayah) menuju keterlibatan yang lebih terbatas pada keluarga inti, serta meningkatnya peran lembaga profesional dalam pelaksanaan upacara. Meskipun demikian, nilai-nilai sakral dan keyakinan spiritual tetap dipertahankan, sehingga transformasi yang terjadi bersifat adaptif, bukan substitutil ran bentuk sol pergeseran

Ketiga, temuan lapangan menunjukkan adanya peran penting aktor periferal, generasi muda, serta otoritas adat dalam mendorong penerimaan ngaben krematorium. Proses penerimaan ini juga melibatkan mekanisme negosiasi sosial dan legitimasi simbolik melalui praktik keagamaan, seperti upacara meraun, yang berfungsi sebagai media konsensus kolektif. 

"Dengan demikian, secara faktual dapat disimpulkan bahwa transformasi Ngaben di Desa Adat Pujungan merupakan hasil dari interaksi kompleks antara pengalaman empiris masyarakat, kebutuhan praktis, dinamika sosial, serta upaya menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas," ungkapnya. 

Suterji berharap hasil penelitiannya bermanfaat bagi krama Desa Adat Pujungan dalam memahami ngaben krematorium. Temuan penting dari penelitian ini adalah, tradisi tidak bersifat statis, tetapi bersifat lentur dan adaftif terhadap modernisasi.

BACA JUGA:  Di Tangan Miss Ayu, Matematika Dijamin Menyenangkan bagi Anak-anak

Sebagai saran, Suterji mengingatkan Krama Adat Pujungan, bahwa penting menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi agar ngaben tetap memiliki makna spiritual yang mendalam, meskipun dalam bentuk yang lebih praktis dan modern.

Bagi pemuka agama dan tokoh adat, diperlukan bimbingan berkelanjutan untuk memastikan bahwa transformasi tidak mengaburkan makna ritual, melainkan memperkuat nilai spiritual dan solidaritas sosial dalam masyarakat Adat Pujungan.

Bagi akademisi, penelitian lebih lanjut dapat memperluas cakupan wilayah dan membandingkan fenomena serupa di desa-desa lain di Bali untuk menemukan pola umum maupun keunikan lokal; dan bagi pemerintah daerah, perlu adanya kebijakan yang mendukung fasilitas krematorium dengan memperhatikan aspek budaya, kesehatan, dan lingkungan agar tidak hanya prsktis tetapi juga berkelanjutan. 

Dalam proses akademik doktoralnya, Suterji dipromotori oleh Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si., dan Kopromotor Prof. Dr. Ida Ayu Komang Arniati, M.AL. Hasil penelitian Suterji dinilai penting bagi umat Hindu Bali. Ini dibuktikan dengan kehadiran Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Nyoman Kenak. 

Ketua Sidang sekaligus Rektor UNHI Denpasar Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si., memuji semangat Suterji yang tetap semangat memelihara pikiran kritis sekaligus melanjutkan studi S3 meskipun usianya tidak muda lagi, 64 tahun. 

Keberhasilan Dr. Suterji, dalam pandangan Cok Bayu Putra, semestinya dijadikan inspirasi bagi generasi muda Hindu bahwa usia tidak menjadi halangan dalam meningkatkan akselerasi diri. Penelitian yang dibahas pun, sangat relevan dengan situasi kekinian. 

"Sangat luar biasa. Bagaimana semangat beliau [Suterji] menempuh pendidikan doktoral ini. Meskipun beliau sudah tidak muda lagi, dan berkarir di Sulawesi sejak muda, tapi kecintaannya kepada Bali, kepada Hindu tetap dipelihara dengan baik. Kami mewakili universitas mengucapkan selamat dan sukses," pungkas rektor. [gde]

BACA JUGA:  Mahasiswa Farmasi Unud Raih Juara I Video Edukasi Pharmaplast 2023 di Surabaya

 

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top