TABANAN-fajarbali.com | Betutu adalah makanan tradisional Bali berbahan dasar daging ayam atau bebek yang dibuat dengan rempah base genep. Kata "betutu" berasal dari 'be' (daging) dan 'tunu' (bakar), yang kini disajikan baik untuk sarana upacara maupun makanan sehari-hari.
Salah satu pemilik usaha industri rumahan pengolahan ayam dan bebek betutu adalah Bapak Gusti Putu Nugraha Putra di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali.
Usaha ini bernama "Anugrah Yadnya" yang telah berdiri sejak tahun 2021. Namun, selama ini usaha tersebut masih dijalankan secara sederhana dan konvensional, sehingga memerlukan waktu yang lama dan tenaga ekstra.
Selain itu, pemasaran produk masih sebatas memenuhi pesanan untuk keperluan upacara keagamaan, serta belum dilengkapi dengan pengemasan modern maupun label produk.
Tim Pengabdian Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Universitas Udayana (Unud) yang diketuai oleh A.A. Manik Pratiwi, S.E., M.Si., melihat potensi tersebut dan menghadirkan inovasi melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) untuk membantu usaha industri rumahan milik Bapak Gusti Putu Nugraha Putra.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas serta memperluas jangkauan pasar pelaku usaha lokal.
Solusi nyata yang dilakukan berupa penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG). Bantuan yang diberikan meliputi mesin pencabut bulu ayam dan bebek otomatis, mesin giling bumbu halus, panci presto, panggangan gas modern, serta mesin pendingin (freezer) untuk penyimpanan bahan baku.
"Dengan adanya peralatan modern ini, kapasitas produksi dapat ditingkatkan dari yang sebelumnya hanya 30 ekor per bulan menjadi lebih optimal dan dapat diproduksi setiap hari," kata Agung Manik.
Tidak hanya dari segi produksi, tambah Agung Manik, program ini juga mendampingi mitra dalam hal pengemasan dan pemasaran.
Kemasan produk yang sebelumnya hanya menggunakan kertas minyak kini beralih menggunakan kemasan ramah lingkungan yang dapat didaur ulang, yaitu besek anyaman bambu yang dilengkapi dengan label produk menarik serta berstandar food grade.
Selain itu, pelaku usaha juga diberikan pelatihan pemasaran digital (digital marketing) dan fasilitas berupa etalase kaca serta meja dan kursi makan agar dapat membuka warung makan langsung di rumah.
Dengan menerima bantuan yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek), Gusti Putu Nugraha Putra merasa sangat terbantu dalam usahanya sehari-hari.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Tim Universitas Udayana, DRTPM, dan Kemdikti Saintek Indonesia atas bantuannya”, ucap Gusti Putu Nugraha Putra. [gde/rel]









