TCI Unud Cari Solusi Pulihkan Pasar Wisatawan China

“Kita ketahui bahwa semenjak tahun 2017 pasar Cina itu mendominasi kunjungan wisatawan ke Indonesia khususnya ke Bali,” jelas Sendra.

 Save as PDF

Dr. Drs. I Made Sendra, M.Si.

 

DENPASAR – fajarbali.com | Tourism Confucius Institute (TCI) Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud) turut mencari solusi tentang pemulihan pasar China dan prospek pariwisata Bali era new normal.

Upaya itu diwujudkan melalui seminar internasional, Rabu (16/10) di Gedung Agrokompleks Unud Kampus Sudirman, Denpasar. Seminar internasional ini juga implementasi kerja sama Tri Dharma perguruan tinggi antara Nanchang University dan Nanchang Normal University yang sudah ditandatangani oleh Rektor Unud.

Direktur TCI Unud Dr. Drs. I Made Sendra, M.Si, menjelaskan, seminar Internasional ini membicarakan mengenai prospek pasar pariwisata Bali pada new normal covid-19 tentang bagaimana cara untuk memulihkan pasar pariwisata China.

“Kita ketahui bahwa semenjak tahun 2017 pasar Cina itu mendominasi kunjungan wisatawan ke Indonesia khususnya ke Bali,” jelas Sendra.

Kata Sendra, dari kebijakan Menteri Pariwisata pada Kabinet Presiden Jokowi pertama maupun kedua yang pertama menargetkan sekitar 20 juta kunjungan wisatawan luar negeri ke Bali.

Pada saat itu Kementerian Pariwisata memberikan jatah pada Bali untuk bisa memberikan kontribusi sekitar 40% kunjungan wisatawan ke Indonesia untuk mencapai target 20 juta pada tahun 2019.

“Kenyataannya tidak bisa tercapai oleh karena itu karena kita melihat bahwa setelah Covid-19 ini kunjungan wisatawan Tiongkok belum ada satupun yang datang ke Bali yang ada itu adalah ada dari Macau kemudian dari Singapura, Taiwan,” katanya.

Sendra menambahkan, kebijakan politik people Republik of China menganut kebijakan politik Zero Covid-19 yang memiliki arti negara yang dikunjungi harus benar-benar nol angka Covid-19.

Permasalahannya, sampai saat ini Cina belum membuka border mereka. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Cina agar warga negeranya tidak bepergian ke luar negeri.

“Boleh keluar negeri, tetapi sebaliknya dari bepergian harus karantina sampai tiga minggu. Ini persyaratan yang sulit. Ini perlu kita terobos dengan Government to government (G2G) melalui KTT G20. Kunjungan Wisatawan Cina menduduki ranking satu 2017 dan 2018,” tandasnya.

Seminar Internasional ini menghadirkan beberapa pembicara yakni, Dr. Zeng Xian Le, Prof. Liang Yikui, Dr. Drs. Made Sendra, M.Si., dan Yayu Indrawati, S.S., M.Par., Ph.D. (Gde)

 Save as PDF

Next Post

Sekjen Gerindra Minta Kepengurusan DPD & DPC Tak Sepelekan  PAC

Kam Okt 27 , 2022
“Itu sebabnya malam ini saya ingin ketemu dengan PAC. Mereka adalah penanggung jawab di kecamatan sedangkan saya penanggung jawab partai di nasional nggak ada beda PAC dengan sekjen,” tandasnya.
IMG-20221027-WA0003-83959307

Berita Lainnya