“Inilah kekuatan masyarakat Bali, ketika semua bersatu dan bergotong royong, berbagai hal yang berat dapat dilaksanakan bersama. Semangat menyama braya seperti ini harus terus kita jaga,” imbuhnya.
Bendesa Adat Kepaon, AA Ketut Wirya didampingi Ketua Panitia, I Gusti Ketut Mayun Mahardika mengatakan, pelaksanaan karya secara bersama merupakan salah satu upaya untuk meringankan beban krama. Selain itu, kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat kebersamaan serta rasa menyama braya di lingkungan Desa Adat Kepaon.
“Tujuan utama kami adalah meringankan beban masyarakat atau krama desa. Dengan dilaksanakan bersama, rasa kebersamaan dan menyama braya juga semakin kuat,” katanya.
Atma Wedana Baligia Punggel dalam karya ini diikuti sebanyak 104 peserta, sedangkan Mepandes Masal diikuti sebanyak 194 peserta. Puncak Upacara Mepandes dilaksanakan pada Senin (7/9), sementara Puncak Karya Atma Wedana Baligia Punggel akan dilaksanakan pada Buda Umanis Wuku Prangbakat, 16 September 2026 mendatang. Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan dengan dukungan dan partisipasi seluruh krama serta sinergi bersama berbagai pihak.
AA Ketut Wirya menegaskan, keberhasilan pelaksanaan karya tidak terlepas dari dukungan seluruh krama dan pihak-pihak yang telah bergotong royong sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
“Kami berharap karya ini bukan hanya menjadi sebuah kewajiban adat, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, meringankan beban krama, dan semakin menumbuhkan rasa menyama braya di Desa Adat Kepaon,” pungkasnya.










