UPMI Bali Rancang Teba Modern, Sampah Tuntas di Sumbernya 

IMG-20250420-WA0012
Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum.

Prof. Suarta tak menampik, poin dari SE tersebut, khususnya larangan produksi dan distribusi air minum kemasan di bawah 1 liter menimbulkan pro kontra. Namun ia menilai pro-kontra merupakan hal wajar sebagai dinamika sebuah kebijakan publik. 

Penggunaan kantong kresek sekali pakai di pasar tradisional, juga diakuinya menjadi tantangan besar, sebab sudah sejak lama menjadi kebiasaan. "Ini menuntut peran pengawas," jelasnya. 

Pihaknya optimistis, kelompok yang kontra merenung dengan kepala dingin jika melihat Bali dalam jangka panjang. Apalagi Gubernur Koster berencana bertemu dengan Perintah Pusat dalam hal ini Kementerian Perindustrian.

"Pro-kontra memang tak bisa dihindarkan sebagai dinamika atas kebijakan. Tapi kalau saya pribadi lebih melihat kepada niat baik Pak Gubernur Koster. Di awal memang terasa berat tapi lama-lama pasti terbiasa," imbuhnya. 

Jika kebijakan gubernur dilakukan dengan baik oleh semua masyarakat, hasilnya bisa dilihat dalam jangka panjang, minimal 2 tahun. Saat Bali benar-benar bersih dari sampah, maka manfaatnya dirasakan oleh seluruh masyarakat Bali. 

"Jika lingkungan sudah bersih, maka wisatawan akan nyaman. Otomatis masyarakat yang merasakan dampaknya. Begitu juga tentang rencana Pak Gubernur mengatasi kemacetan mesti kita dukung. Sebab kemacetan dan kebersihan selama ini dikeluhkan wisatawan," tegas Prof. Suarta.

Akademisi sekaligus budayawan ini kembali mengingatkan, bahwa Bali tidak memiliki kekayaan alam seperti tambang. Maka yang wajib dijaga adalah lingkungan, tempat dimana budaya Bali tumbuh dan berkembang menjadi daya pikat dunia.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top