dr. Asih Primatanti menambahkan, kebutuhan fisioterapis di Bali dan Indonesia umumnya, masih sangat terbuka. Apalagi proporsinya kurang merata. Jadi lulusannya diharapkan melihat celah-celah yang belum terisi.
Sebagai insan tenaga kesehatan, menurutnya, yang harus ditekankan adalah visi kemanusiaan. "Di manapun lulusan kami bekerja, atau membuka praktik mandiri harus menjunjung tinggi visi kemanusiaan karena sesungguhnya kita ini mengabdi," kata dr. Asih Primatanti.
Fisioterapi merupakan bidang ilmu kesehatan yang unik karena memadukan seni, keahlian medis dan kemampuan komunikasi yang baik untuk memotivasi pasien.
Salah satu lulusan, I Gede Agus Vidi Kristiawan, mengaku sangat bangga menjadi lulusan Pendidikan Profesi Fisioterapis Undhira. Agus yang berasal dari Kintamani ini sebelumnya juga menempuh pendidikan Sarjana Fisioterapi di Undhira.
Agus mengatakan ketika lulus sarjana langsung terserap dunia kerja. "Saya langsung dapat kerja di sebuah klinik kesehatan di Ubud," jelasnya.
Setelah lulus Pendidikan Profesi Fisioterapis, Agus berencana membuka praktik mandiri di kampung halamannya. Sebab di daerah Kintamani belum banyak ditemukan layanan fisioterapi.
Pada kesempatan yang sama, lulusan lainnya I Dewa Ayu Felicya D. bahkan sudah punya tempat praktik mandiri di Gianyar. Cya, sapaan karibnya, ingin mengabdikan ilmunya untuk masyarakat luas.
Cya juga ingin menepis bahwa layanan fisioterapi bersifat eksklusif. Padahal biaya-nya relatif terjangkau. Ia mengingatkan, layanan fisioterapi tidak hanya dibutuhkan oleh orang yang sakit, tetapi orang yang bugar untuk perawatan diri.










