Undang Gelak Tawa, Taman Penasar Duta Kabupaten Badung Angkat Isu Sosial Masyarakat 

1000670021
Wimbakara (Lomba) Taman Penasar Duta Kabupaten Badung pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Kamis (18/6).

 

Namun, seiring jalannya cerita, Wayan akhirnya mengalami perubahan. Melalui berbagai tutur sastra yang disampaikan para tokoh dalam bentuk sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka, hingga palawakya, kesadarannya perlahan tumbuh.

 

Salah satu pesan yang diangkat berasal dari Geguritan Dharma Sunyata karya I Made Menaka, sebuah karya sastra klasik Bali yang memuat ajaran etika, filosofi Hindu, dan nilai moderasi beragama.

 

“Pada akhirnya Wayan sadar setelah mendengarkan nasihat Jero Kelian dan masyarakat. Ia memahami makna sejati menyama braya. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara yadnya dan ekonomi. Terlalu fokus mencari uang hingga melupakan yadnya tidak baik, tetapi sebaliknya, terus-menerus meyadnya tanpa memperhatikan kebutuhan keluarga juga akan menimbulkan persoalan,” jelasnya.

 

I Wayan Citra menuturkan, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru berdiri pada 9 Juli 2005 atas prakarsa sejumlah seniman otodidak asal Desa Adat Tanjung Benoa. Seiring perjalanan waktu, sanggar terus berbenah, terutama setelah bergabungnya seniman muda yang menempuh pendidikan seni formal di Institut Seni Indonesia (ISI).

 

“Dari sana kami mulai menata organisasi dan pola pengelolaan sanggar. Astungkara, hingga saat ini sanggar tetap ajeg, meraih berbagai penghargaan, dan dipercaya tampil dalam PKB,” katanya.

 

Sebelumnya, sanggar tersebut pernah tampil dalam PKB ke-45 melalui Rekonstruksi Gamelan Tua Angklung Kakelentangan dan juga berhasil meraih Juara I pada Wimbakara Taman Penasar beberapa tahun lalu.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top