Mencetak Guru yang Berkarya
Sastrawan sekaligus wartawan, I Putu Supartika dan I Made Adnyana Ole yang turut menjadi penguji eksternal mengapresiasi karya inovatif mahasiswa FBS UPMI Bali itu.
Keduanya mendorong agar proyek inovatif serupa juga bisa dikembangkan kampus-kampus lain sehingga bisa lahir penulis dan pengarang dari kampus. “Untuk lulusan UPMI ini, mereka tak hanya akan jadi guru bahasa, tapi juga guru sekaligus penulis atau pengarang, guru yang berkarya,” kata Ole.
Supartika mengakui sebagai karya pemula, memang masih ditemukan sejumlah kelemahan pada karya inovatif mahasiswa itu. Namun, dia menilai, ada upaya untuk mencoba dengan giat. “Dayu Putri mencoba mengombinasikan antara puisi Bali anyar dan puisi Bali modern. Ini patut diapresiasi,” kata Supartika.
Sastrawan tradisional Bali, Nyoman Suprapta mengaku bangga ada mahasiswa yang mengambil tugas akhir proyek inovatif karya sastra. “Biasanya mahasiswa meneliti karya saya. Baru kali ini ada mahasiswa yang menghasilkan karya sastra sendiri. Ini luar biasa dan harus ditumbuhkan lagi,” kata Nyoman Suprapta.
Dekan FBS UPMI Bali, I Made Sujaya menambahkan proyek inovatif karya sastra merupakan implementasi amanat Permendiktisaintek Nomor 39/2025 tentang Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi, namun juga wujud kesungguhan UPMI Bali, khususnya FBS, menjalankan kurikulum outcome base education (OBE) dan konsep kampus berdampak.
“Kami di FBS UPMI ingin lulusan kami tak hanya seorang calon pendidik yang kreatif, tapi juga kreator yang berjiwa pendidik,” tandas Sujaya. [gde]










