Ujian TA Proyek Inovatif Sastra UPMI Bali Hasilkan Buku Sastra, Diuji Sastrawan dan Wartawan

IMG-20260701-WA0062
Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali kembali meluluskan tiga orang mahasiswa melalui jalur tugas akhir nonskripsi berupa proyek inovatif karya sastra.

DENPASAR-fajarbali.com | Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali kembali meluluskan tiga orang mahasiswa melalui jalur tugas akhir nonskripsi berupa proyek inovatif karya sastra.

Ketiga mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah (PBID) itu menghasilkan produk berupa buku karya sastra dan jurnalistik sastrawi.

Mereka menempuh ujian tugas akhir, Rabu (1/7). Selain dosen internal di Prodi PBID, ketiganya juga diuji penguji eksternal dari kalangan sastrawan dan wartawan.

Ketiga mahasiswa yang dinyatakan lulus tanpa skripsi itu, yakni Ida Ayu Gede Agung Putri Wardani dan I Made Indra Sanjaya dari Konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali dan Ni Putu Vira Asri Agustini dari Konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Putri Wardani menghasilkan buku kumpulan puisi Lawate Surup ring Bale Gede: Pupulan Puisi Bali Anyar dan Indra Sanjaya menghasilkan buku Geguritan Dharma Pawayangan. Kedua buku mereka diterbitkan Pustaka Ekspresi.

Vira menghasilkan buku karya jurnalistik sastrawi Sejuta Rasa Selaksa Cerita: Sehimpunan Kisah tentang Kuliner Khas Bali yang diterbitkan Tatkala.

Angkatan Kedua

Ketua Prodi PBID, FBS, UPMI Bali, Gede Sidi Artajaya menjelaskan sejak tahun 2025, Prodi PBID UPMI Bali memberi kesempatan mahasiswa mengambil tugas akhir nonskripsi, salah satunya, yakni proyek inovatif karya sastra yang selaras dengan capain pembelajaran lulusan (CPL) prodi.

“Tiga mahasiswa ini merupakan angkatan kedua yang mengambil TA nonskripsi. Tahun lalu ada dua orang mahasiswa yang mengambil TA karya sastra,” kata Sidi.

Menurut Sidi, selain menghasilkan buku karya sastra, ketiga mahasiswa juga membuat laporan tugas akhir yang berisi latar belakang dan tujuan penciptaan, proses kreatif pengarang/penulis, deskripsi karya, serta relevansi karya inovatif tersebut bagi dunia pendidikan.

BACA JUGA:  Datangkan Tutor dari Malaysia, Unhi Gelar Workshop Jurnal Internasional 

“Laporan itu semacam pertanggungjawaban proses kreatif mereka dalam berkarya,” kata Sidi.
Ketiga mahasiswa yang memilih jalur proyek inovatif karya sastra ini memang memiliki latar belakang menulis sastra atau karya jurnalistik.

Putri Wedani menulis puisi Bali yang dimuat di sejumlah media massa di Bali. Indra Sanjaya juga seorang seniman dalang yang kerap membuat pupuh. Vira merupakan penulis di salah satu media daring di Bali.

Bukan Lebih Mudah, Tapi Tantangan Berkarya

“Walaupun ini nonskripsi, bukan berarti lebih mudah. Tapi, saya senang, karena menjadi tantangan bagi saya untuk berkarya secara kreatif,” kata Putri Wedani.

Indra Sanjaya mengaku memang sejak awal tertarik membuat proyek inovatif sastra tradisional berupa geguritan. Sebagai dalang muda, dia ingin menciptakan karya yang mendukung kemampuannya mendalang.

“Kebetulan ayah saya memberikan suatu catatan dari guru nabe beliau tentang dunia pewayangan. Atas saran dosen pembimbing, saya ubah itu menjadi geguritan sehingga bisa dikenalkan kepada masyarakat luas,” kata putra dalang I Ketut Muada alias Joblar ini.

Sementara Vira menghimpun kembali berita kisah yang ditulis di tatkala.co untuk dikembangkan menjadi buku karya jurnalisme sastrawi tentang kuliner khas Bali. “Harapan saya, orang tak hanya mengenal cita rasa kuliner khas Bali itu, tapi juga mengetahui kisah-kisah khas di baliknya,” ujar Vira.

Mencetak Guru yang Berkarya
Sastrawan sekaligus wartawan, I Putu Supartika dan I Made Adnyana Ole yang turut menjadi penguji eksternal mengapresiasi karya inovatif mahasiswa FBS UPMI Bali itu.

Keduanya mendorong agar proyek inovatif serupa juga bisa dikembangkan kampus-kampus lain sehingga bisa lahir penulis dan pengarang dari kampus. “Untuk lulusan UPMI ini, mereka tak hanya akan jadi guru bahasa, tapi juga guru sekaligus penulis atau pengarang, guru yang berkarya,” kata Ole.

BACA JUGA:  Guru Juga Digembleng Habis dalam Pendidikan PPG UPMI Bali

Supartika mengakui sebagai karya pemula, memang masih ditemukan sejumlah kelemahan pada karya inovatif mahasiswa itu. Namun, dia menilai, ada upaya untuk mencoba dengan giat. “Dayu Putri mencoba mengombinasikan antara puisi Bali anyar dan puisi Bali modern. Ini patut diapresiasi,” kata Supartika.

Sastrawan tradisional Bali, Nyoman Suprapta mengaku bangga ada mahasiswa yang mengambil tugas akhir proyek inovatif karya sastra. “Biasanya mahasiswa meneliti karya saya. Baru kali ini ada mahasiswa yang menghasilkan karya sastra sendiri. Ini luar biasa dan harus ditumbuhkan lagi,” kata Nyoman Suprapta.

Dekan FBS UPMI Bali, I Made Sujaya menambahkan proyek inovatif karya sastra merupakan implementasi amanat Permendiktisaintek Nomor 39/2025 tentang Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi, namun juga wujud kesungguhan UPMI Bali, khususnya FBS, menjalankan kurikulum outcome base education (OBE) dan konsep kampus berdampak.

“Kami di FBS UPMI ingin lulusan kami tak hanya seorang calon pendidik yang kreatif, tapi juga kreator yang berjiwa pendidik,” tandas Sujaya. [gde]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top